Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus” ?

Ini saya kutipkan Kata Pengantar Bart D. Ehrman di bukunya “Misquoting Yesus, Kesalahan Penyalinan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, Kisah dibalik Siapa yang Mengubah Alkitab dan Apa Alasannya” yang menguraikan juga sedikit riwayat hidupnya..

Dibandingkan dengan bahan karya tulis saya yang lain, bahan di dalam buku ini sudah bercokol dalam benak saya lebih lama, yakni sejak tiga puluh tahun lalu, ketika saya masih berusia belasan akhir dan baru saja mulai mempelajari Perjanjian Baru.

Karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari diri saya dalam waktu yang begitu lama, saya kira saya harus memulai tulisan ini dengan menceritakan kisah pribadi tentang mengapa bahan itu dari dahulu hingga sekarang sangat penting bagi saya.

Buku ini bertutur tentang manuskrip-manuskrip kuno Perjanjian Baru dan perbedaanperbedaan yang ditemukan di dalamnya, tentang para penyalin yang menyalin tulisan kudus dan kadang-kadang mengubahnya.

Hal itu boleh jadi bukanlah pengantar yang cocok untuk autobiografi seseorang, tetapi begitulah kenyataannya. Tidak banyak yang bisa diperbuat tentang hal itu.

Sebelum menjelaskan bagaimana dan mengapa manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru itu telah membuat perubahan besar terhadap diri saya secara emosional dan intelektual, terhadap pemahaman akan diri saya sendiri, dunia tempat saya hidup, pandangan-pandangan saya tentang Allah dan Alkitab, saya harus menceritakan sedikit latar belakang diri saya.

Saya lahir dan besar di bagian tengah AS, di pertengahan tahun 1950-an. Cara saya dibesarkan biasa-biasa saja.

Kami boleh dibilang adalah tipe keluarga standar, yang terdiri dari atas 5 orang, pergi ke gereja tetapi tidak terlalu religius.

Sejak tahun ketika saya menginjak kelas lima, kami bergabung dengan gereja Episkopal di Lawrence, Kansas, gereja yang pendetanya ramah dan bijaksana, yang juga adalah tetangga kami dan puteranya adalah teman saya (yang dengannya saya belakangan melakukan kenakalan di SMP – sesuatu yang melibatkan cerutu).

Sebagai mana gereja Episkopal pada umumnya, yang satu ini juga dihormati oleh masyarakat dan bertanggungjawab terhadap masyarakat.
Liturgi greja dijalankan dengan sungguh-sungguh, dan alkitab Alkitab menjadi bagian liturgi itu.

Tetapi Alkitab tidak ditandaskan secara berlebihan: Alkitab, ditambah dengan tradisi gereja dan akal sehat, digunakan di sana sebagai penuntun iman dan tingkah laku.

Kami tidak benar-benar membicarakan Alkitab atau membacanya secara panjang lebar, bahkan dalam kelas-kelas sekolah Minggu, yang lebih berfokus pada persoalan-persoalan praktis dan sosial, dan pada cara hidupdi dunia ini.

Memang, Alkitab sangat dihargai di rumah kami, terutama oleh ibu, yang kadang-kadang membacakannya dan memastikan bahwa kami memahami cerita-cerita di dalamnya dan ajaran-ajaran etikanya (juga “doktrin-doktrinnya”, meski tidak terlalu ditandaskan dibandingkan yang lain).

Hingga saya menginjak bangku sekolah menengah, saya masih memandang Alkitab sebagai buku misterius yang penting untuk agama; tetapi tidak menganggapnya sebagai sesuatu untuk dipelajari dan dikuasai.

Buku itu terkesan kuno dan seolah-olah, entah bagaimana, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Allah, gereja dan ibadat.

Namun, saya tidak melihat alasan untuk membacanya sendiri atau mempelajarinya.

Pandangan saya berubah drastis pada tahun kedua di sekolah menengah. Saat itulah saya merasa “dilahirkan kembali”, dengan latar yang sangat berbeda dengan gereja asal saya.

Saya termasuk jenis anak yang tidak pernah menjadi nomo satu — murid yang baik, meminati dan aktif dalam kehidupan sosial tetapi bukan bagian dari anak-anak elit dan populer di sekolah.

Saya merasakan semacam kehampaan di dalam batin saya yang tampaknya tidak bisa diisi dengan apapun — termasuk bermain dengan teman-teman (kami sudah minum-minum bersama di pesta-pesta), berpacaran (mulai merasakan betapa misteriusnya dunia seks), sekolah (saya belajar keras dan mendapat nilai bagus tetapi tidak sampai menjadi bintang kelas), pekerjaan (saya menjadi wiraniaga yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk perusahaan yang menjual produk khusus bagi tunanetra), gereja (saya adalah pelayan gereja dan cukup saleh — yang selalu hadir di Gereja setiap Minggu pagi, mengingat apa yang terjadi di malam Minggu).

Ada semacam rasa kesepian yang berkaitan dengan usia remaja; tetapi, tentu saja, saya pada waktu itu tidak menyadari bahwa hal itu adalah bagian dari masa remaja — saya pikir ada sesuatu yang hilang.

Pada saat itulah saya mulai mengikuti pertemuan klub Campus Life Youth for Christ (Masa Muda di Sekolah untuk Kristus); pertemuannya diselenggarakan di rumah para siswa — pertemuan pertama yang saya hadiri adalah sebuah pesta di halaman rumah seorang siswa yang cukup populer, dan hal itu membuat saya berpikir bahwa kelomok tersebut pasti bagus.

Pemimpin kelompok itu adalah seorang pria berusia dua puluhan bernama Bruce, yang melakukan hal itu sebagai mata pencaharian — mengorganisasi klub Youth for Christ setempat, berupaya menobatkan anak-anak sekolah menengah agar “dilahirkan kembali” dan melibatkan mereka dalam pelajaran-pelajaran Alkitab yang serius, pertemuan doa, dan semacamnya,

Bruce memiliki kepribadian yang menyenangkan — lebih muda daripada orang tua kami tetapi lebih tua dan lebih berpengalaman dari pada kami — dan ia menyampaikan pesan yang ampuh, bahwa kehampaan batin kami (Kami masih remaja! Kami semua merasakan kehampaan itu!) terjadi karena kami tidak memiliki Kristus didalam hati kami.

Seandainya kami mau meminta agar Kristus masuk kedalamnya, ia akan masuk dan memenuhi hati kami dengan sukacita dan kebahagiaan yang hanya disadari oleh orang-orang yang “diselamatkan”.

Bruce bisa megutip Alkitab kapan saja ia mau, dan ia melakukannya hingga taraf yang mengagumkan.

Mengingat rasa hormat saya terhadap, tetapi juga ketidaktahuan saya tentang, Alkitab, semua itu terkesan meyakinkan.

Dan hal itu sangat berbeda dengan apa yang saya terima di Gereja, yakni ritual kuno yang terkesan lebih sesuai dengan orang dewasa yang kuno ketimbang anak-anak yang ingin bersenang-senang dan berpetualang tetapi batinnya hampa.

Singkat cerita (padahal sudah singkat), saya akhirnya mulai bergaul dengan Bruce, mulai menerima pesan keselamatannya, meminta Yesus masuk kedalam hati saya, dan merasakan pengalaman dilahirkan kembali yang nyata.

Saya sudah lahir lima belas tahun sebelumnya, tetapi kelahiran kembali itu merupakan pengalaman yang baru dan seru bagi saya, dan hal itu merupakan awal perjalanan iman saya seumur hidup, yang melewati banyak sekali lika-liku dan akhirnya berakhir di sebuah jalan buntu yang ternyata, sesungguhnya, adalah jalan baru yang saya lalui sampai sekarang, selama lebih dari tiga puluh tahun.

Orang-orang yang mengalami kelahiran kembali seperti kami menganggap diri sebagai orang Kristen “sejati” — berbeda dengan orang-orang yang sekadar pergi ke gereja sebagai rutinitas belaka, yang tidak benar-benar memiliki Kristus dalam hati mereka dan dengan demikian hanya melakukan secara mekanis tanpa kesungguhan.

Salah satu cara kami membedakan diri dengan orang-orang lain itu adalah dengan memiliki komitmen terhadap pelajaran Alkitab dan doa.

Terutama pelajaran Alkitab. Bruce sendiri sangat gandrung akan Alkitab; ia adalah lulusan Moody Bible Institute di Chicago dan bisa mengutip Alkitab untuk menjawab setiap pertanyaan yang terpikirkan oleh kami (dan banyak pertanyaan yang tak pernah terpikirkan oleh kami).

Tak lama kemudian, saya mulai merasa iri dengan kesanggupan dia mengutip Alkitab sehingga saya pun mulai mempelajarinya sendiri, dengan mendalami beberapa ayat, memehami relevansinya, dan bahkan menghafal ayat-ayat kuncinya.

Bruce mengatakan bahwa sebaiknya menjadi orang Kristen yang “serius” dan membaktikan diri saya sepenuhnya pada iman Kristen.

Hal itu berarti bahwa saya harus mempelajari Alkitab secara purnawaktu di Moody Bible Institute, yang, antara lain, menuntut adanya perubahan gaya hidup secara drastis.

Di sana ada sebuah “kaidah” etika yang harus ditandatangani oleh para mahasiswa: dilarang minum, merokok, menari, bermain kartu, menonton film. Dan harus belajar banyak Alkitab.

Kami selalu berujar, “Moody Bible Institute, di mana Bible (alkitab) adalah nama tengah kami.”

Saya menganggapnya sebagai tempat penggodokan orang kristen.

Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak memiliki iman yang setengah-setengah; saya mendaftar ke Moody, diterima, dan mulai kuliah di sana pada musim gugur tahun 1973.

Di Moody, saya sangat sibuk. Saya memutuskan untuk mengambil jurusan teologi Alkitab, yang artinya banyak belajar Alkitab dan mengikuti berbagai kuliah teologi secara otomatis.

Hanya ada satu sudut pandang yang diajarkan dalam kuliah-kuliah itu, yang dianut oleh semua dosennya (mereka harus menandatangani sebuah pernyataan) dan oleh semua mahasiswanya (kami juga menandatanganinya): Alkitab adalah firman yang tidak bisa salah dari Allah.

Semua isi Alkitab adalah benar. Seluruh Alkitab adalah terilham, termasuk kata-katanya — “pengilhaman kata per kata, atau mutlak”.

Semua kuliah yang saya ikuti meyakini mentah-mentah sudut pandang ini dan mengajarkannya; sudut pandang lain dianggap menyimpang atau bahkan bidah.

Beberapa orang, saya pikir, menyebutnya cuci otak.

Bagi saya, hal itu merupakan peningkatan besar dari pandangan lemah terhadap Alkitab yang saya dapatkan dahulu sewaktu saya masih remaja Episkopal yang suka bersosialisasi.

Hal ini adalah keKristenan yang murni, bagi orang-orang yang berkomitmen sepenuhnya.

Namun, ada suatu masalah nyata tentang pernyataan bahwa Alkitab diilhami secara kata per kata.

Sebagaimana kami pelajari di Moody dalam salah satu kuliah pertama pada kurikulumnya, kami sebenarnya tidak memiliki tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang asli.

Yang kami miliki hanyalah salinan dari tulisan-tulisan itu, yang dibuat bertahun-tahun kemudian — dalam kebanyakan kasus, berpuluh-puluh tahun kemudian.

Selain itu, tidak satu pun dari salinan-salinan itu benar-benar akurat, karena para penyalinnya secara tidak sengaja dan/atau sengaja mengubah beberapa bagiannya. Semua penyalin melakukannya.

Maka, alih-alih memiliki kata-kata terilham dari autograf-autograf itu (yakni naskah-naskah aslinya), kita hanya mempunyai salinan-salinan yang sarat kekeliruan dari autograf-autograf itu.

Oleh karenanya, salah satu tugas yang paling mendesak adalah memastikan apa yang dikatakan Alkitab yang asli, mengingat fakta bahwa (i) naskah-naskah asli itu terilham dan (2) kita tidak memilikinya.

Harus saya katakan bahwa banyak teman saya di Moody tidak menganggap tugas ini sebagai sesuatu yang penting atau menarik.

Mereka sudah cukup puas dengan menerima pernyataan bahwa autograf-autograf itu telah diilhami, dan boleh dibilang tidak menganggap serius masalah bahwa autograf-autograf itu sudah lenyap sekarang. Namun, bagi saya, hal itu merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian.

Yang diilhami Allah adalah kata-kata Alkitab itu sendiri. Maka, tentu saja kita harus tahu apa kata-kata itu jika kita ingin tahu apa yang telah Ia komunikasikan kepada kita, karena kata-kata itu adalah kata-kata-Nya, dan kata-kata lainnya (yang diciptakan secara tidak sengaja atau sengaja oleh para penyalin) tidak akan banyak membantu jika kita ingin tahu apa kata-kata-Nya.

Hal itulah yang menggugah minat saya, yang pada saat itu sudah berusia delapan belas tahun, terhadap manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru tersebut.

Di Moody, saya mempelajari dasar-dasar suatu bidang ilmu yang disebut kritik naskah — suatu istilah teknis yang berarti ilmu yang mempelajari cara memulihkan kata-kata “asli” sebuah naskah yang terdapat dalam manuskrip-manuskrip yang telah mengubah kata-kata itu.

Tetapi saya belum memiliki cukup kemampuan untuk melakukan penelitian itu: pertama-tama saya harus mempelajari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa asli Pejanjian Baru, dan mungkin bahasa-bahasa kuno lainnya seperti ibrani (bahasa asli Alkitab Kristen Perjanjian Lama) dan Latin, belum lagi bahasa-bahasa Eropa modern seperti Jerman dan Perancis, supaya saya bisa melihat apa yang dikatakan para cendekiawan lain tentang hal-hal tersebut.

Jalan masih panjang membentang.

Pada akhir kuliah tiga tahun saya di Moody (kuliah tersebut merupakan program diploma tiga tahun), saya telah menyelesaikan mata kuliah-mata kuliah di sana dengan baik dan sudah bertekad lebih serius lagi untuk menjadi seorang cendikiawan Alkitab.

Pada waktu itu saya berpikir bahwa ada cendekiawan berpendidikan tinggi di kalangan orang Kristen Evangelis, tetapi tidak ada banyak anggota evangelis di kalangan berpendidikan tinggi berpendidikan tinggi (sekuler), maka saya ingin menjadi suara “evangelis” dalam lingkungan sekuler, dengan cara mendapatkan gelar-gelar yang akan memungkinkan saya mengajar dalam lingkungan sekuler sambil mempertahankan komitmen evangelis saya .

Namun, pertama-tama, saya harus mendapatkan gelar sarjana, dan oleh karena itu saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di universitas evangelis terkemuka. Saya memilih Wheaton College, yang terletak di pinggir kota Chicago.

Orang-orang di Moody memperingatkan saya bahwa tidaklah mudah untuk menemukan orang-orang Kristen sejati di Wheaton — yang memperlihatkan betapa fundamentalisnya Moody: Wheaton hanya untuk orang Kristen evangelis dan adalah almamater Billy Graham, misalnya.

Dan awalnya, saya memang mendapati bahwa Wheaton terasa terlalu liberal untuk selera saya.

Mahasiswa disana bicara soal sastra, sejarah, dan filsafat, bukannya pengilhaman kata-kata Alkitab.

Mereka melakukan hal itu dari sudut pandang Kristen, tetapi meskipun demikian: tidakkah mereka menyadari apa yang benar-benar penting?

Saya memutuskan untuk mengambil jurusan sastra Inggris di Wheaton, karena saya sudah lama gemar membaca dan karena saya tahu bahwa untuk bisa masuk ke kalangan akademisi, saya harus menjadi pakar dalam suatu bidang keilmuan selain Alkitab.

Saya juga memutuskan untuk memperdalam bahasa Yunani.

Kemudian, pada semester pertama di Wheaton, saya bertemu dengan Dr. Gerald Hawthorne, dosen bahasa Yunani saya dan orang yang menjadi sangat berpengaruh dalam kehidupan saya sebagai cendekiawan, dosen, dan, akhirnya, sahabat.

Hawthorne, sebagaimana umumnya dosen-dosen saya di Wheaton, adalah orang Kristen evangelis yang saleh. Tetapi ia tidak takut mempertanyakan imannya.

Pada waktu itu, saya menganggap sikapnya sebagai tanda kelemahan (malah saya pikir saya bisa menjawab hampir semua pertanyaannya); tetapi akhirnya saya memandangnya sebagai pembaktian sejati terhadap kebenaran dan sebagai kerelaan untuk membukan diri terhadap kemungkinan bahwa pandangannya perlu disesuaikan dengan pengetahuan dan pengalaman hidup yang didapat.

Belajar bahasa Yunani merupakan pengalaman yang seru bagi saya.

Ternyata, saya cukup bagus dalam menguasai dasar-dasar bahasa itu dan selalu berhasrat untuk memperdalamnya lagi.

Tetapi, pada tingkatan yang lebih dalam, pelajaran bahasa Yunani itu sedikit mengganggu saya dan pandangan saya terhadap Alkitab.

Saya langsung bisa melihat bahwa makna dan nuansa sepenuhnya dari naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani hanya bisa ditangkap apabila naskah itu dibaca dan dipelajari dalam bahasa aslinya (begitu pula dengan Perjanjian Lama, sebagaimana yang belakangan saya ketahui ketika saya sudah menguasai bahasa Ibrani).

Saya pikir, hal itu menguatkan alasan saya untuk mempelajari bahasa tersebut secara lebih seksama.

Pada saat yang sama, hal itu mulai membuat diri saya mempertanyakan pemahaman saya mengenai Alkitab sebagai firman Allah yang diilhami kata per kata.

Jika makna sejati dari kata-kata Alkitab hanya bisa ditangkap dengan mempelajarinya dalam bahasa Yunani (dan Ibrani), tidakkah hal itu berarti bahwa sebagian orang Kristen, yang tidak bisa membaca dalam bahasa-bahasa kuno, tidak akan pernah bisa sepenuhnya memahami apa yang Allah ingin agar mereka ketahui?

Dan tidakah hal itu menjadi doktrin pengilhaman sebagai doktrin untuk kaum elit cendekiawan saja, yang memiliki ketrampilan intelektual dan kemudahan untuk mempelajari bahasa dan meneliti naskah-naskah Alitab dengan membaca naskah aslinya?

Apa gunanyamengatakan bahwa kata-kata itu diilhami oleh Allah jika kebanyakan orang sama sekali tidak bisa memperoleh kata-kata itu, tetapi hanya bisa memperoleh terjemahan-terjemahan yang boleh dibilang asal saja ke suatu bahasa, misalnya bahasa Inggris, yang tidak ada kaitannya dengan kata-kata aslinya?

Pertanyaan-pertanyaan saya kian menjadi rumit ketika saya semakin memikirkan manuskrip-manuskrip yang menampilkan kata-kata itu.

Semakin dalam saya mempelajari bahasa Yunani, semakin tergugah pula minat saya terhadap manuskrip-manuskrip yang melestarikan Perjanjian Baru bagi kita, dan terhadap ilmu kritik naskah, yang semestinya bisa membantu kita melakukan reka ulang terhadap kata-kata asli Perjanjian Baru.

Saya terus menerus kembali kepada pertanyaan saya yang mendasar: apa gunanya kita mengatakan bahwa Alkitab adalah firman yang tidak salah dari Allah jika pada kenyataannya kata-kata yang ada dalam Alkitab kita bukanlah kata-kata yang terilham dan tidak bisa salah dari Allah, melainkan cuma kata-kata yang disalin oleh para penyalin — yang kadang-kadang benar, kadang-kadang (sering!) salah?

Apa gunanya mengatakan bahwa autograf-autograf (naskah-naskah asli ) itu diilhami?

Kita tidak memiliki naskah asli itu! Kita hanya memiliki salinan-salinan yang sarat kekeliruan, dan sebagian besar dari salinan-salinan itu sudah terpisah selama berabad-abad dari naskah aslinya dan berbeda dengan naskah-naskah asli itu, dan tampaknya, perbedaannya banyak sekali.

Keraguan-keraguan tersebut menghantui saya sekaligus memacu saya untuk terus menggali lebih dalam lagi agar bisa memahami apa sebenarnya Alkitab itu.

Saya berhasil menyelesaikan pendidikan kesarjanaan saya di Wheaton dalam waktu dua tahun dan memutuskan, dibawah bimbingan Prof Hawthorne, ntuk mendalami bidang kristik naskah Perjanjian Baru lewat penelitian bersama dengan seorang pakar terkemuka dunia di bidang tersebut, seorang cendekiawan bernama Bruce M. Metzger yang mengajar di Princeton Theological Seminar

[...]

Tunggu postingan selanjutnya dari Kata Pengantar tersebut ..

Tulisan terkait:

  1. Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  2. (Sambungan ke-1) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  3. (Sambungan ke-2) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  4. (Sambungan ke-3) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  5. (Sambungan ke-4) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  6. (Sambungan ke-5) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  7. (Sambungan ke-6) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”

Video terkait:

  1. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 1/10
  2. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 2/10
  3. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 3/10
  4. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 4/10
  5. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 5/10
  6. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 6/10
  7. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 7/10
  8. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 8/10
  9. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 9/10
  10. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 10/10

8 Comments »

  1. 1
    henryeka Berkata

    Wah panjang bro.. gpp tuch ngutip buku orang sebanyak itu?

    Iya gak tau tuch.. dilarang apa enggak ya? Tapi mumpung gak tahu, diterusin aja dech.. kecuali kalau dituntut. :-D

  2. 2
    Pyrrho Berkata

    Saya juga tahu tentang Bart Ehrman ini karena namanya sering disandingkan dengan tokoh-tokoh dalam Jesus Seminar, walaupun dia tidak ikut disitu.

    O gitu ya.. wah gak ngerti Jesus Seminar nih.. mesti baca-baca dulu..

    Itu karena kritikan-kritikannya terhadap Alkitab, yang menurut saya, pada beberapa bagian hanya mengulang polemik masa lalu yang sebenarnya sudah terjawab.

    Bisa di share gak, “beberapa bagian hanya mengulang polemik masa lalu” dan “yang sebenarnya sudah terjawab” ?

    Saya punya 1 bukunya (tp belum habis dibaca) yg berjudul : The Lost Christianities. Jadi pengen dilanjutin nih… :)

    Bahasa inggris gak? soalnya gak sanggup baca deh kalo bahasa Inggris.. :)

  3. 3
    Butterfly And Wind Berkata

    wuee.. nice blog !

    Makasih..

    umumnya orang mikir kalo Yesus = manusia seperti penghinaan/jelek..
    tapi sebenarnya Yesus Gereja memberikan efek negatif dibanding Yesus versi Gnostik..

    http://butterflyandwind.wordpress.com/2008/01/22/mitologi-abraham/
    http://butterflyandwind.wordpress.com/2008/01/23/mitologi-yesus/
    http://butterflyandwind.wordpress.com/2008/01/23/mitologi-monotheis-kristen-islam-dan-dampak-negatifnya/

    Kok blognya udah di hapus ?? Sayang banget deh..

    btw, kalo mau liat injil gnostic yg ditranslate ke bahasa indonesia :
    http://ioanesrakhmat.blogspot.com/

    Makasih infonya… Udah saya link tuh..

  4. 4
    Cayadi Berkata

    Bolehkah melihat bahwa alkitab merupakan kumpulan tulisan kebijaksanan dan ajaran Kristus. Penulisnya adalah manusia dengan dibantu oleh Roh Kudus.

    Coba deh baca postingan sambungan kata pengantar yang ini..

    Nah, yang lebih unik lagi adalah – dia penasaran dengan mempelajarinya namun ada tertulis “Berbahagialah mereka yang percaya namun tidak melihat”. Bukankah ini berarti pandangan alkitabiah harus didasari oleh iman (akan Tuhan).

    Karena “Berbahagialah mereka yang percaya namun tidak melihat” adalah pernyataan dari Alkitab maka kamu udah punya asumsi bahwa kamu percaya Alkitab..

    Apakah untuk percaya bahwa Yesus itu Tuhan harus percaya bahwa Alkitab itu benar dan apakah untuk percaya bahwa Alkitab itu benar maka kita harus percaya bahwa Yesus itu Tuhan ???
    Nah singkatnya, supaya kita bisa percaya Alkitab, coba deh baca postingan2 di website ini tentang Alkitab

    GBU..

  5. 5

    Saya tertarik pada buku karya Bart D. Ehrman yang berjudul “Misquoting Yesus, Kesalahan Penyalinan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, Kisah dibalik Siapa yang Mengubah Alkitab dan Apa Alasannya”.

    Bagaimana saya bisa membaca buku tersebut, maksud saya apakah buku tersebut dijual bebas? Saya butuh buku tersebut sebagai referensi untuk skripsi saya yang objek kajiannya berupa manuscrit Sunda. Terima kasih.

    Coba deh cari di toko buku gramedia terdekat.. Itu buku terbitan mereka kok..

    NB. Kritik Teks atas teks Alquran sudah pernah dilakukan oleh beberapa orientalis dan sarjana muslim. Dan bahkan kritik teks yang dilakukan oleh beberapa sarjana muslim tersebut mengundang pro dan kontra yang sangat horor.

    Bagus juga tuh, kalau ada yang mau bikin website khusus untuk itu..

  6. 6

    bukunya bart d ehrman kayaknya harus jadi buku wajib orang kristen ya? biar pada melek kali ya…..eh gak oang kristen aja ding…orang islam juga perlu baca…malah semua orang mungkin perlu baca…

    salah satu yang bagi saya penting dari pernyataan bart d ehrman dalam misquoting jesus adalah: “tidak ada injil asli” yang dimiliki…..
    nah jadi susah kan???? kita cuma dapat salinan yang banyak penyelewengannya…baik sengaja ataupun tidak (begitu kata dia)…

  7. 7

    kalo gak salah sih kritik teks alquran itu karena pengaruh kritik teks bibel, jadi gaya berpikir kritik teks bibel dibawa atao dipakai untuk quran, padahal menurutku sejarah keduanya berbeda…kita kayaknya perlu belajar sejarah keduanya biar bisa membandingkan…

  8. 8

    ada buku yag perlu dibaca: “metodologi bibel dalam studi Alquran” karya Adnin Armas, terbitan GIP (gema insani press). ini membahas sejarah dan masalah kritik teks bibel dan quran….beli aja, baca dan pahami, nanti jadi tahu deh….


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: