Curhat gara2 buku “the Messianic Legacy”

Ada buku bagus berjudul the Messianic Legacy, warisan abadi seorang mesias. Buku tersebut ditulis oleh Michael Baigent, Richard Leigh, & Henry Lincoln yang merupakan penulis buku The Holy Blood & The Holy Grail.

Sebetulnya buku aslinya sudah diterbitkan sejak 1989, dan buku terjemahan nya ini baru diterbitkan maret 2007 oleh Ramala Books dengan penterjemahnya Ursula Gyani B.

Buku ini sangat menarik. Nanti suatu saat akan saya jadikan rujukan postingan berikutnya. Tapi ada yang mau saya curhatkan dari buku ini.

Pada pendahuluan buku ini, tepatnya di halaman 17 ada paragraf yang membuat saya tersenyum.. saya cukup mengerti dengan maksud penulis di paragraf tersebut:

Kami tidak sedang melancarkan Perang Salib jenis apapun. Kami tidak berhasrat untuk mengupayakan orang agar “berpindah agama”. Sudah tentu kami tidak memiliki kesengajaan untuk mencoba mengguncang iman orang.

Dalam The Holy Blood and The Holy Grail, motivasi kami sangat sederhana.Kami memiliki kisah untuk dituturkan, dan kisah itu tampaknya sangat layak disampaikan.

Itu juga yang saya alami. Sepertinya semakin sering saya nyatakan bahwa saya tidak bermaksud seperti itu tapi semakin orang tidak percaya.. kayak mana lagi saya harus jelaskan..

Tapi saya juga sangat mengerti kenapa ada dan selalu akan ada orang yang beranggapan bahwa saya sedang berusaha untuk mengupayakan orang agar “berpindah agama”. Padahal, saya gak terlalu perduli siapapun mau beragama apapun. Itu pilihan pribadi masing-masing. Bahkan, menurut saya, Tuhan pun membebaskan kita untuk memilih agama apapun bahkan membebaskan kita untuk tidak mempercayainya.. Itulah kenapa banyak perbedaan pemahaman tentang Tuhan.

Kalau Tuhan mau, kan mudah. Tinggal tanamkan didalam setiap manusia suatu setting yang membuat manusia itu selalu tahu siapa Tuhan yang sebenarnya. Tapi ini kan tidak.

Oleh karena itu makanya saya percaya bahwa Tuhan punya maksud lain, yaitu ingin mencari tahu mana manusia2 yang bisa mengenaliNya, menyayangiNya, dan mematuhiNya..

Jadi akan selalu ada manusia2 yang gagal untuk mengenaliNya bahkan tidak mengakui keberadaanNya.. Apakah ini menunjukkan Tuhan tidak Kasih? saya akan jawab bahwa itu gak ada hubungannya alias jaka sembung naik ojek.. Kasih Tuhan diberikan kepada semua orang untuk membantu orang tersebut mengenaliNya.. Tetapi, kasih Tuhan tidak akan dilanjutkan kepada orang yang pada akhirnya (setelah mati) tidak bisa mengenaliNya apalagi tidak mengakui keberadaannya..

Gara2 pemahaman itu juga  lah makanya pada akhirnya saya tersentak bahwa Tuhan gak perlu repot2 menyelamatkan umat manusia. apalagi sampai mengorbankan diriNya sendiri. Kalau kita berharap atau berfikir bahwa Tuhan memang akan menyelamatkan umat manusia maka lebih masuk akal kalau:

  1. Gak usahlah manusia itu sampai tergoda dan turun ke bumi. Kan ngerepotin aja kalau udah terlanjur turun ke bumi terus repot2 nyari cara untuk menyelamatkannya.
  2. Kalau memang manusia harus hidup di dunia, maka gak usahlah manusia itu diberikan nafsu2, pikiran2 dan perasaan negatif segala alias manusia itu dibikin seperti robot aja..
  3. Kalau emang mau nyelamatin manusia, kan Tuhan tinggal bilang: hai semua umat manusia, yg sudah mati, yang masih hidup dan yang mau lahir.. Dosa kamu semuanya sudah saya hapus.. Gampang kan? gak perlu repot2.. Tuhan gitu lo! secara Dia yg sangat kuasa!

Ya gak ?

Anyway, gimana ya caranya kita bisa menyatakan suatu pendapat tapi tidakdisalahpahami orang..?? padahal saya sudah bekerja keras untuk memilih dan menggunakan kata2 yang tidak kasar..

One Comment

  1. 1
    baratuktak Says:

    itulah sikap Tuhan yang dibatasi logika kita manusia…

    *ga ada yang mustahil bagi Tuhan*
    *btul?*

    Jangan semua yang gak masuk akal trus dianggap bisa diterima karena gak mustahil bagi Tuhan..

    Misal ada orang mengimani bahwa Tuhan bisa bunuh diri. Kalau saya bilang tidak mungkin, orang itu bilang bahwa ini diluar otak kamu yang kecil.. Tuhan itu maha kuasa. Kalau saya percaya menggunakan iman. Akal tidak diperlukan.

    Atau misal ada orang mengimani bahwa Tuhan bisa merubah menjadi matahari. Kalau saya bilang tidak mungkin, orang itu bilang bahwa ini diluar otak kamu yang kecil.. Tuhan itu maha kuasa. Kalau saya percaya menggunakan iman. Akal tidak diperlukan.

    Atau misal ada orang mengimani bahwa Tuhan bisa merubah menjadi matahari. Kalau saya bilang tidak mungkin, orang itu bilang bahwa ini diluar otak kamu yang kecil.. Tuhan itu maha kuasa. Kalau saya percaya menggunakan iman. Akal tidak diperlukan.

    Atau misal ada orang mengimani bahwa Tuhan bisa merubah menjadi jerapah. Kalau saya bilang tidak mungkin, orang itu bilang bahwa ini diluar otak kamu yang kecil.. Tuhan itu maha kuasa. Kalau saya percaya menggunakan iman. Akal tidak diperlukan.

    Main langsung percaya terhadap hal2 yang diluar akal adalah tindakan yang sangat tidak logis.

    Gunakanlah perasaan dan akal secara bersama-sama untuk meyakini kebenaran. Kalau sudah yakin, maka berimanlah. Bagaimana mungkin kita harus beriman tanpa sebelumnya menguji dulu kebenarannya terlebih dulu ? Bagaimana mungkin menguji suatu kebenaran hanya menggunakan perasaan saja tanpa akal pkiran yang logis ?


RSS Feed for this entry

Leave a Comment