Renungan Pergantian Tahun 2008 ke 2009 & Resolusi 2009

Walau agak terlambat, tapi gak apa-apa lah saya posting juga. Berikut ada tulisan IPTEK berjudul “Tahun, Semesta, dan Kehidupan” dari Ninok Leksono pada halaman pertama Kompas tanggal 31 Desember 2008.

Tulisan yang bagus untuk menyempurnakan keimanan kita kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan.. Tuhan Maha Pencipta.. Tuhan yang bukan manusia tentunya..

———-
Tahun, Semesta, dan Kehidupan
IPTEK – Ninok Leksono
Kompas, Rabu 31 Desember 2008

“Mungkin Tuhan menciptakan Alam Semesta bagi kemaslahatan kita” (Fisikawan, Andrei Linde, Discover, 12/08)

Dalam beberapa jam lagi, Matahari terakhir tahun 2008 akan tenggelam di ufuk barat, dan warga dunia pun berpesta menyambut datangnya tahun baru. Inilah peristiwa yang mengulangi apa yang terjadi, setahun silam, dua tahun silam, sepuluh tahun silam, se abad silam, satu milenium silam, dan sejuta tahun silam… bahkan semiliar tahun sekalipun.
Seperti kita petik dari ilmu astronomi, sistem Matahari-Bumi yang melahirkan konsep tahun – yaitu periode atau kurun waktu sekali Bumi mengelilingi Matahari- sudah lahir sekitar 4,5 milyar tahun silam.

Seperti itulah “rutin” yang akan dijalani penduduk Bumi selama sekitar empat miliar tahun lagi, yakni sebelum Matahari mengembang menjadi bintang raksasa merah yang akan memanggang bumi.

Menjadi pertanyaan menarik, masihkah kehidupan ada di Bumi saat itu? Atau manusia sudah bertransformasi menjadi makhluk pengelana antariksa? Pertanyaan itu masuk akal karena bahkan sekarang pun kondisi lingkungan di Bumi mulai tampak menurun akibat aktivitas manusia.

Tahun dan “tahun”

Dengan jarak rerata dari bintang induk Matahari 150 juta kilometer, Bumi perlu 365 hari untuk sekali mengelilingi Matahari. Itulah satu tahun kita.
Bagi planet Merkurius yang berjarak 57,5 juta kilometer dari Matahari, satu tahun di sana tidak 365 hari, tetapi 87,9 hari Bumi.
Lalu satu tahun untuk Venus hanya 224,7 hari Bumi.
Sementara itu, satu tahun untuk planet luar, yang jaraknya dari Matahari lebih besar dari Bumi, yakni Mars 686,9 hari Bumi, Jupiter 11,9 tahun Bumi, Saturnus 29,5 tahun Bumi, Uranus 84 tahun Bumi, Neptunus 164,8 tahun Bumi, dan Pluto 247,9 tahun Bumi.
Ibaratnya, untuk merayakan tahun baru di Pluto-seandainya manusia bisa hidup di planet yang jauhnya 40 kali jarak Matahari-Bumi ini- diperlukan tempo 247,9 tahun!

Di Bumi, jangka waktu selama itu telah diisi oleh berbagai kemajuan teknologi dan peradaban yang luar biasa.
Kalau saat ini di Pluto ada perayaan menyambut tahun baru, maka perayaan tahun baru sebelumnya terjadi tahun 1760 Bumi, satu dekade sejak awal Revolusi Industri di Inggris.
Kita sudah menyaksikan betapa hebatnya perkembangan zaman sejak Revolusi Industri hingga hari ini.

Ya, ketika berbicara tentang tahun, yang berarti juga tentang waktu, manusia Bumi pun mau tidak mau harus berbicara tentang jarak. Jaraklah yang sebenarnya membuat manusia seperti tidak berdaya -karena kecilnya- di hadapan kosmos yang mahaluas.

Dalam ketidak berdayaan menghadapi jarak, manusia telah memperlihatkan keteguhannya untuk tidak mau menyerah. Melalui wahana antariksa seperti Pioneer 10 (diluncurkan tahun 1972) dan Pioneer 11 (1973), mata manusia telah dibawa ke jarak lebih jauh dari planet Mars, sehingga citra planet raksasa Jupiter secara close-up pun bisa dibuat.

Wahana Voyager bahkan melangkah lebih jauh. Setelah diluncurkan tahun 1977, Voyager 2 menjadi wahana buatan manusia pertama yang mendekati planet Uranus dan Neptunus, sementara Voyager 1 yang menempuh arah berlainan kini telah memasuki ruang antar bintang.

Namun, harus diakui, meski ciptaannya telah berhasil menjangkau ruang antarbintang, jarak sekitar 10 miliar kilometer tersebut masih sangat-sangat kecil untuk ukuran kosmos.

Sekadar perbandingan, bintang terdekat dari Bumi, Alpha Centauri, sudah berjarak 4,5 tahun cahaya -yakni jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun- adalah sekitar 9,5 triliun kilometer. Bisa kita hitung berapa triliun kilometer jarak Alpha Centauri ke Bumi.

Bisa juga kita hitung berapa jarak dalam kilometer dari Matahari kita yang ada di salah satu lengan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) ke pusat Galaksi yang jauhnya 30.000 tahun cahaya. Juga bisa kita hitung jarak galaksi terdekat, yakni Andromeda, yang jauhnya 2 juta tahun cahaya.

Bak Debu

Di hadapan kosmos, Bumi dan manusia ibarat debu yang dimensinya demikian kecil.
Namun, Sang Maha Pencipta rupanya memberikan kelebihan yang sungguh besar kepada manusia.
Ini diwujudkan dengan munculnya temuan ilmiah terakhir yang memperlihatkan bahwa alam semesta tercipta untuk kehidupan. Jadi, bukan kehidupan menyesuaikan diri dengan alam semesta, tetapi justru alam semestalah yang menyesuaikan diri untuk kehidupan.

Pemahaman baru ini muncul setahap demi setahap di kalangan astronom yang mempelajari kosmos. Astronom yang bekerja di kegelapan malam di observatorium Cile yang amat gelap dan tinggi merasakan dirinya bukan warga Bumi, tetapi warga Galaksi. (The sensation of being on Earth faded away, she recalled. “I was a citizen of the Galaxy.” Dari “Space -The Once and Future Frontier”/NG)

Adanya kedekatan, meskipun terpisahkan oleh jarak mahajauh, seperti menyiratkan bahwa kehidupan merupakan “anak kandung” alam semesta.
Dalam penjelasannya kepada Tim Folger (Discover, Desember 2008), fisikawan visioner Andrei Linde dari Universitas Stanford di Palo Alto, California menyebutkan, sifat-sifat dasar alam semesta secara ajaib pas untuk kehidupan.
Kalau hukum fisika yang berlaku diubah sedikit saja -di alam semesta ini- maka kehidupan yang kita kenal ini tidak akan pernah ada.

Ambil dua contoh.
Atom terdiri dari proton, neutron, dan elektron. Kalau proton 0,2 persen lebih berat, ia akan tidak stabil dan akan meluruh jadi partikel lebih simpel. Atom lalu tidak akan eksis, demikian pula kita.
Kalau gravitasi sedikit saja lebih kuat, bintang-bintang akan mengerut lebih kuat, membuatnya lebih kecil, panas, dan padat. Bintang tidak akan bertahan miliaran tahun, tetapi akan terbakar habis bahan bakarnya dalam jutaan tahun, lalu padam jauh sebelum kehidupan punya peluang untuk berevolusi.

Ada banyak contoh yang memperlihatkan bahwa alam semesta punya sifat ramah terhadap kehidupan sehingga para fisikawan sulit menganggapnya hanya sebagai kebetulan.

Kita hidup dalam satu waktu dan tempat khusus di alam semesta di mana kehidupan mungkin terjadi. (Ini dikenal sebagai Prinsip Antropik Lemah).
Sementara Prinsip Antropik Kuat menegaskan bahwa hukum-hukum fisika memang bias (amat pro) terhadap kehidupan.
Freeman Dyson, fisikawan di Institute for Advanced Study di Princeton, lebih gamblang lagi mengatakan bahwa Prinsip Antropik Kuat menyiratkan. “alam semesta tahu kita akan datang”.

Kalau memang ini soalnya, tampaknya ada titah khusus yang diamanatkan kepada kehidupan, dan khususnya kepada manusia dari alam semesta, atau dari Penciptanya.
Menjadi kewajiban kitalah untuk secara cerdas menangkap amanat tersebut. Ini tentu lebih serius daripada sekadar mengulang ritual setiap tahun tatkala Matahari di hari akhir bulan Desember tenggelam di ufuk barat.
———-


Komentar saya: Luar biasa!!!

Saya jadi terfikir, kalau umur rata2 manusia maksimal adalah 60 tahun, maka:

  • Umur manusia dalam hitungan tahun Merkurius (planet terdekat) adalah (60 x 365) / 87,9 = 249,15 tahun.
  • Umur manusia dalam hitungan tahun Pluto (planet terjauh) adalah 60/247,9 = 0,24 tahun atau tidak lebih dari 3 bulan saja.

Betapa relatif nya umur manusia! Betapa relatifnya pemahaman 1 tahun itu..

Lalu, dengan umur maksimal 60 tahun, kira2 paling jauh kita bisa sampai kemana ya di alam semesta ini?

Mungkin suatu saat nanti teknologi transportasi tidak menggunakan pesawat lagi, tetapi dengan merubah fisik manusia menjadi cahaya untuk kemudian ditembakkan ke tujuan yang diinginkan.

Dan ternyata itu pun masih belum cukup untuk pergi menuju tujuan terjauh! Misal ke jarak galaksi terdekat, yakni Andromeda, yang jauhnya 2 juta tahun cahaya. Perlu temuan luar biasa untuk menjadi pengelana alam semesta.

Betapa luarbiasanya Tuhan Pencipta Alam Semesta ini! Siapapun nama Engkau, Tuhan!

Akhirnya, gak ada lagi yang bisa saya sampaikan kecuali mengimani perkataan Yesus:

Mat. 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Mrk. 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap

Yesus tidak pernah menyatakan dirinya Tuhan.. Sebagian dari kita lah yang menganggapnya Tuhan.. Yesus hanya seorang manusia.
Betapa konyolnya nya kita, menuhankan seorang manusia sementara manusia hanyalah sebutir debu di tengah-tengah alam semesta ini..
Begitu juga, betapa konyolnya ide pemahaman bahwa Tuhan menjelma menjadi seorang manusia sementara manusia hanyalah sebutir debu ditengah-tengah alam semesta ini.

Resolusi saya di tahun 2009 adalah berusaha selalu setia pada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan,

yaitu Tuhan Maha Pencipta yang menciptakan alam semesta, Malaikat, “tuhan”-”tuhan” yang lain, Roh, Iblis, Jin, manusia, binatang, tanaman dan segala yang pernah kita lihat dan rasakan..

yaitu Tuhan yang bukan malaikat, Roh, iblis, Jin, Manusia, binatang, tanaman atau apapun yang pernah kita lihat dan rasakan. Tuhan yang tidak akan pernah sama dengan ciptaanNya karena itu tidak masuk akal..

yaitu Tuhan yang bentuknya tidak akan pernah sama dengan apa yang pernah kita lihat dan rasakan.
Mencoba memahami bentuk dan jenis Tuhan adalah “melampaui akal”, tetapi memahami keberadaannya adalah dapat didekati oleh akal (masuk akal). Dan, mencoba memahami manusia sebagai Tuhan adalah tidak dapat didekati oleh akal (tidak masuk akal) bukannya “melampaui akal”

yaitu Tuhan yang Maha Mengetahui tetapi tidak berarti Tuhan harus memiliki mata, telinga, dan hidung.
Mencoba memahami bentuk dan jenis Tuhan adalah “melampaui akal”, tetapi memahami keberadaannya adalah dapat didekati oleh akal (masuk akal).

yaitu Tuhan yang tidak pernah digoda oleh / berkelahi dengan Iblis, Syetan, atau Kuasa Kegelapan karena Iblis, Setan, dan Kuasa Kegelapan adalah ciptaan Tuhan..

yaitu Tuhan yang tidak perlu mengalahkan kematian karena kematian hanya ada pada ciptaanNya bukan pada Tuhan yang menciptakan

yaitu Tuhan yang memiliki keajaiban, dimana kejadian keajaibannya tidak membutuhkan orang untuk mempercayai/mengimaninya agar keajaiban itu dapat sempurna terjadi.

yaitu Tuhan yang memberikan kebebasan sebesar-besarnya kepada manusia untuk mengimani atau tidak mengimaniNya.
Eksistensi Tuhan tidak membutuhkan keimanan manusia. Iblis, Setan dan kuasa gelap lainnya tidak menunjukkan bahwa Tuhan tidak Kuasa.

yaitu Tuhan yang meletakkan kita pada suatu proses seleksi untuk mengetahui manusia mana yang benar-benar mengimani dan menyayangiNya.

yaitu Tuhan yang memiliki mekanisme pertanggungjawaban terhadap apa-apa yang pernah dikerjakan oleh Iblis, Setan, Kuasa Gelap, dan Manusia

yaitu Tuhan Maha Pencipta yang memiliki nama yang beragam mulai dari Tuhan Bapa, Yahweh, Allah SWT, Sang Hyang Widhi atau tidak bernama tetapi diyakini sebagai Tuhan yang Maha Pencipta oleh orang-orang yang tidak beragama.

yaitu Tuhan Maha Pencipta yang menjadi benang merah penghubung semua agama dan keyakinan terhadap adanya Tuhan tapi tidak beragama

yaitu Tuhan Maha Pencipta yang merupakan irisan (intersection) dari pemahaman ketuhanan semua agama dan keyakinan terhadap adanya Tuhan tapi tidak beragama

Saya akan berusaha mengasihi Engkau Tuhanku (yang pastinya bukan manusia) dengan segenap hatiku dan dengan segenap jiwaku dan dengan segenap akal budiku.

Saya akan berusaha setia pada Engkau Tuhan (yang pastinya bukan manusia) dalam damai..

Baca juga:

  1. Darimanakah datangnya ‘percaya’ ?
  2. Adakah bukti yang menunjukkan Yesus itu Tuhan?
  3. Sebab & akibat, baik & tidak baik, pahala & dosa, reward & punishment
  4. Daftar isi

3 Comments

  1. Salam kenal dari pendiri Tabloid Internet (media cetak khusus bidang internet)..

  2. 2
    LuLuGuaGua Says:

    6 hari penciptaan Bumi di Kejadian itu 6 hari apa ya? 6 hari bumi ? 6 hari pluto? 6 hari Merkurius?

    Wah terus terang saya tidak begitu jelas pemahaman kata hari yang digunakan dalam Kejadian 1 di Alkitab terjemahan bahasa Indonesia..

    Setahu saya, pada Alkitab berbahasa inggris, digunakan kata Day yang kalau dilihat di kamus memang diterjemahkan menjadi kata hari.

    Kalau definisi hari itu difahami sebagai dampak posisi bumi terhadap bulan/matahari, maka rasanya lebih logis untuk memahami terciptanya siang dan malam justru pada saat yang bersamaan dengan terciptanya alam semesta dimana posisi setiap benda, termasuk bumi, dan pergerakannya dalam alam semesta itu sudah ditetapkan sekaligus.
    Bukannya, Tuhan dengan sengaja menciptakan siang dan malam secara spesifik. Apalagi pake melayang-layang diatas bumi segala.

  3. 3
    ujangmas Says:

    seandainya anda bukan muslim tp pola pikir anda sdh islami
    mangagungkan ajaran tauhid dan menggunakan akal sehat untuk menerima iman, tidak menelan mentah2 dogma yg disuapkan oleh pemuka agama, semoga anda dpt menemukan tuhan yg benar2 Tuhan yg sebenarnya dan menjalankan risalah yg disampaikan melalui utusan yg jg sebenarnya
    amin …


RSS Feed for this entry

Leave a Comment