Ini sambungan postingan sebelumnya yang menceritakan pengubahan ayat demi kepentingan untuk melawan golongan Kristen adopsionis.
PENGUBAHAN ANTIADOPSIONISTIK
Kaum Adopsionis Kristen Perdana
Ada sejumlah kelompok Kristen dari abad kedua dan ketiga yang menganut pandangan “adopsionistik” tentang Kristus. Pandangan ini disebut adopsionis karena para penganutnya percaya bahwa Yesus tidakbersifat ilahi tetapi merupakan manusia darah dan daging sepenuhnya yang telah “diadopsi” Allah menjadi putranya, ketika ia dibaptis. 4)
Salah satu kelompok Kristen masa awal yang paling diketahui menganut Kristologi adopsionistik adalah sebuah sekte orang Yahudi-Kristen yang dikenal sebagai kaum Ebionit.
Tidak diketahui dengan pasti mengapa mereka dinamakan demikian. Mungkin, nama itu dibuat sendiri berdasarkan kata bahasa Ibrani Ebyon, yang artinya “miskin”.
Para pengikut Yesus ini mungkin mengikuti nurid-murid awal Kristus yang meninggalkan segala sesuatu demi iman mereka, sehingga rela hidup miskin demi orang lain.
Tidak soal dari mana nama mereka berasal, pandangan kelompok ini dengan jelas dilaporkan dalam catatan-catatan yang berasal dari abad-abad awal, terutama yang ditulis oleh musuh-musuh mereka yang memandang mereka sebagai bidah.
Para pengikut Yesus tersebut, seperti Yesus, adalah orang ahudi; bedanya mereka dengan orang-orang Kristen lain adalah pendapat mereka bahwa untuk mengikuti Yesus, orang harus menjadi Yahudi.
Bagi kaum pria, hal itu artinya disunat. Bagi kaum pria dan wanita, hal itu artinya mengikuti hukum yahudi yang diberikan oleh Musa, termasuk hukum tentang makanan yang halal dan kewajiban mengikuti Sabat dan festival orang Yahudi.
Yang terutama membedakan orang Kristen ini dari yang lainnya adalah pemahaman mereka bahwa Yesus adalah juru selamat orang Yahudi.
Karena mereka adalah penganut fanatik dari monoteisme -percaya bahwa hanya ada satu Allah- mereka percaya bahwa Yesus tidak bersifat ilahi, tetapi adalah manusia yang sama seperti kita semua.
Ia lahir karena hubungan seksual kedua orang tuanya, Yusuf dan Maria, lahir seperti semua orang lain (ibunya bukan perawan), dan kemudian dibesarkan dalam keluarga Yahudi.
Yang membuat Yesus berbeda dengan semua orang lain adalah bahwa ia lebih taat dalam mengikuti hukum Yahudi; dan karena ketaatannya yang besar, Allah mengadopsi dia sebagai putera-Nya sewaktu ia dibaptis, ketika sebuah suara yang datang dari surga mengumumkan bahwa ia adalah putra Allah.
Sejak saat itu, Yesus merasa terpanggil untuk menunaikan misi yang ditugaskan Allah kepadanya -mati disalib, sebagai korban tanpa-cela untuk menebus dosa orang-orang lain.
Hal itu ia lakukan melalui ketaatan yang setia terhadap panggilannya; Allah kemudian memuliakan pengorbanan itu dengan membangkitkannya dari kematian dan mengangkat dia ke surga, di mana ia masih menunggu untuk datang kembali sebagai hakim bagi bumi.
Jadi, menurut kaum Ebionit, Yesus tidak memiliki pra-eksistensi; ia tidak dilahirkan oleh seorang perawan; ia tidak bersifat ilahi.
Ia adalah manusia yang istimewa dan saleh, yang telah Allah pilih dan tempatkan dalam hubungan yang istimewa dengan-Nya.
Dalam menanggapi pandangan adopsionistik itu, orang-orang Kristen proto-ortodoks menyatakan bahwa Yesus bukan “sekadar” manusia, tetapi bahwa ia sesungguhnya bersifat ilahi, dan dalam pengertian tertentu ia adalah Allah sendiri.
Ia dilahirkan oleh seorang perawan, ia lebih saleh daripada orang lain mana pun karena ia memang berbeda dengan manusia, dan sewaktu ia dibaptis Allah tidak membuat dia menjadi putra-Nya (melalui adopsi) tetapi sekadar meneguhkan bahwa ia adalah putra-Nya, sebagaimana sejak dahulu.
Bagaimana debat-debat itu mengimbas naskah tulisan kudus yang beredar pada abad kedua dan ketiga, naskah yang disalin oleh para penyalin bukan-profesional yang sedikit banyak terlibat dalam debat-debat ini?
Sangatlah sedikit, kalaupun ada, versi -versi berbeda yang tampaknya diciptakan oleh para penyalin yang menganut yang menganut pandangan adopsionistik.
Alasan untuk kurangnya bukti initidaklah mengejutkan.
Jika seorang Kristen adopsionistik telah menyisipkan pandangannya kedalam naskah tulisan kudus, pastilah pandangan itu sudah dikoreksi oleh penyalin-penyalin sesudahnya yang menganut paham yang lebih ortodoks.
Tetapi ada temuan-temuan yang menunjukkan bahwa naskah itu telah diubah-ubah guna menentang Kristologi adopsionistik.
Pengubahan-pengubahan itu menekankan bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang perawan, bahwa ia tidak diadopsi sewaktu dibaptis, dan bahwa ia sendiri adalah Allah.
Pengubahan oleh Kaum Antiadopsionistik
… Baca Bukunya…
—————————
Catatan Kaki
4) Untuk pembahasan yang lebih lengkap tentang pandangan adopsionis, dan tentang para penganutnya, lihat Ehrman, Orthodox Corruption of Scripture, 47-54
Saya hanya mengutip sampai disini khusus untuk tulisan mengenai pengubahan ayat untuk ‘melawan’ orang kristen adopsionis. Silahkan baca contoh-contohnya pada buku Misquoting Yesus yang terjemahannya diterbitkan oleh Gramedia.
Selanjutnya akan saya kutipkan tulisan tentang golongan Kristen Docetik..
Baidewei, ternyata proses terbentuknya ajaran Kristen yang dianut sekarang telah melalui proses yang sangat panjang dimana terdapat perbedaan-perbedaan dalam hal-hal yang justru sangat penting, seperti masalah ketuhanan Yesus dan lainnya.
Mungkin, perbedaan-perbedaan tersebut akan tetap awet sampai sekarang jika demokrasi sudah dikenal pada zaman itu..
Tulisan terkait:
- Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis
- (Sambungan ke-1) Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis – Antiadopsionis
- (Sambungan ke-2) Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis – Antiadosetik
- (Sambungan ke-3) Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis – Antiseparasionis
- Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-1) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-2) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-3) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-4) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-5) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-6) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
Video terkait:
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 1/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 2/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 3/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 4/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 5/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 6/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 7/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 8/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 9/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 10/10


