Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis

Berikut saya kutipkan tulisan Bart D. Ehrman dengan judul seperti diatas pada bukunya “Misquoting Jesus”.

Singkatnya ada perubahan ayat yang menurut analisa Bart D. Ehrman dilakukan dalam rangka untuk mencegah jangan sampai ada ayat di Alkitab yang dapat dimanfaatkan oleh golongan:

  1. Adopsionis
  2. Docetik
  3. Separasionis

Kutipan saya berikut tidak akan mengutip contoh-contoh ayat yang dimaksud. Gak enak dong sama penerbitnya… Kalau Anda tertarik, silahkan beli saja..

Berikut kutipannya:

Kritik naskah mencakup lebih dari sekadar menentukan tulisan asli. Kritik naskah juga meneliti bagaimana tulisan itu mengalami pengubahan dari waktu ke waktu, baik melalui ketidaksengajaan maupun kesengajaan si penyalin.

Yangbelakangan, yakni pengubahan sengaja, bisa jadi sangatlah penting, bukan hanya karena pengubahan tersebut membantu kita memahami apa yang ingin dikatakan oleh penulis aslinya melainkan juga karena pengubahan tersebut bisa memperlihatkan kepada kita sesuatu tentang bagaimana tulisan sang penulis ditafsirkan oleh penyalinnya.

Dengan melihat bagaimana para penyalin mengubah tulisan yang mereka salin, kita bisa menemukan petunjuk tentang apa yang menurut para penyalin tersebut penting dalam tulisan itu sewaktu tulisan itu disalin dan disalin ulang selama berabad-abad.

Gagasan yang ditampilkan dalam bab ini adalah bahwa kadang-kadang tulisan Perjanjian Baru dimodifikasi atas dasar alasan-alasan teologis.

Hal itu terjadi setiap kali penyalin ingin memastikan agar tulisan yang ia salin mengatakan apa yang ia ingin tulisan tersebut katakan; kadang-kadang hal itu disebabkan oleh prdebatan teologis yang marak di zaman sang penyalin.

Untuk memahami pengubahan semacam itu, kita harus belajar sedikit tentang perdebatan teologis di abad-abad awal agama Kristen -abad-abad ketika sebagian besar pengubahan tulisan kudus terjadi, sebelum munculnya para penyalin “profesional”.

Konteks Teologis Penyalinan Naskah

Kita mengetahui banyak hal tentang agama Kristen pada abad kedua dan ketiga – abad-abad yang boleh dikatakan sebagai saat antara buku-buku Perjanjian Baru selesai ditulis dan Kaisar Romawi Konstantin masuk ke agama Kristen, yang, sebagaimana telah kita saksikan, telah mengubah segalanya 1)

Dua abad itu sangat kaya akan keragaman ajaran teologi dikalangan orang Kristen masa awal.

Sesungguhnya keragaman teologis tersebut begitu besarnya sampai-sampai kelompok-kelompok yang menyebut dirinya Kristen menganut kepercayaan dan praktik yang, oleh orang Kristen zaman sekarang pada umumnya, dipandang tidak bersifat Kristen sama sekali. 2)

Tentu saja, pada abad kedua dan ketiga ada orang-orang Kristen yang percaya bahwa hanya ada satu Allah, sang Pencipta segala hal.

Tetapi, ada juga orang-orang yang menyebut dirinya Kristen yang berpendapat ada dua Allah -satu dari Perjanjian Lama (Allah Kemurkaan) dan satu dari Perjanjian Baru (Allah cinta kasih dan belas kasihan). Kedua hal itu bukan sekadar dua kepribadian dari satu Allah yang sama: kedua hal itu sesungguhnya adalah dua Allah yang berbeda.

Menariknya, kelompok-kelompok yang membuat pernyataan itu -termasuk para pengikut Mercion, yang telah kita bahas- mengatakan bahwa pandangan mereka adalah ajaran yang sejati dari Yesus dan para rasulnya.

Sementara itu, kelompok-kelompok lain dari orang Kristen Gnostik percaya bahwa Allah tidak sekadar dua, tetapi dua belas.

Kelompok-kelompok lain lagi mengatakan ada tigapuluh. Yang lain lagi 365.

Semua kelompok itu mengaku penganut Kristen, yang menyatakan bahwa pandangan mereka benar dan telah diajarkan oleh Yesus dan para pengikutnya.

Mengapa kelompok-kelompok lain itu tidak membaca saja Perjanjian Baru untuk menyaksikan sendiri bahwa pandangan mereka salah? Karena waktu itu tidak ada Perjanjian Baru.

Memang, semua buku Perjanjian Baru telah selesai ditulis pada zaman itu. tetapi ada banyak buku lain juga kala itu, yang juga mengklaim ditulis oleh para rasul Yesus -injil-injil, kisah-kisah, surat-surat, dan apokalips-apokalips lain yang berisi sudut pandang yang sangat berbeda dengan yang ada di dalam buku-buku yang pada akhirnya disebut Perjanjian Baru.

Perjanjian Baru sendiri mengemuka dari konflik-konflik tentang Allah (atau allha-allah) tersebut, ketika satu kelompok memperoleh lebih banyak anggota daripada semua kelompok lainnya dan memutuskan buku mana saja yang harus dimasukkan ke dalam kanon tulisan kudus.

Tetapi, pada abad kedua dan ketiga, belum ada kanon yang disepakati bersama -dan teologi yang disepakati bersama.

Sebaliknya, kala itu terdapat keragaman yang sangat luas: berbagai kelompok yang berbeda-beda menyatakan ajaran teologi yang berbeda-beda berdasarkan naskah tertulis yang berbeda-beda, yang semuanya mengklaim ditulis oleh rasul-rasul Yesus.

Beberapa dari kelompok Kristen itu yakin bahwa Allah telah menciptakan dunia ini; yang lainnya percaya bahwa Allah yang benar tidak menciptakan dunia ini (yang dianggap sebagai tempat yang buruk), tetapi dunia ini adalah hasil dari bencana kosmis.

Beberapa dari kelompok itu menyatakan bahwa tulisan-tulisan kudus Yahudi diberikan oleh Allah yang benar; yang lainnya ngotot bahwa tulisan-tulisan kudus yahudi berasal dari Allah orang Yahudi yang lebih rendah, yang bukan Allahyang benar.

Beberapa dari kelompok itu menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah yang sepenuhnya manusia maupun sepenuhnya ilahi; kelompok-kelompok lain berkeras bahwa Kristus sepenuhnya manusia dan sama sekali tidak bersifat ilahi; yang lainnya percaya bahwa ia sepenuhnya illahi dan sama sekali bukan manusia; dan ada juga yang menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah dua pribadi- probadi ilahi (Kristus) dan pribadi manusia (Yesus).

Beberapa dari kelompok itu percaya bahwa kematian Kristus membawa keselamatan kepada dunia; yang lainnya berpendapat bahwa kematian Kristus tidak ada kaitannya dengan keselamatan dunia ini; kelompok-kelompok lain lagi berkeras bahwa Yesus sama sekali tidak pernah mati.

Masing-masing dari berbagai sudut pandang diatas -dan masih banyak lagi yang lainnya- merupakan topik yang terus-menerus didiskusikan, didialogkan, dan diperdebatkan pada abad-abad awal gereja, sementara orang-orang Kristen dari beragam aliran berupaya meyakinkan orang lain tentang benarnya pandangan mereka.

Hanya satu kelompok yang akhirnya “memenangi” debat-debat tersebut.

Kelompok itulah yang menetapkan kredo-kredo Kristen: kredo-kredo itu meneguhkan bahwa hanya ada satu Allah, sang Pencipta; bahwa Yesus Putra-Nya adalah manusia sekaligus bersifat ilahi; dan bahwa keselamatan diperoleh melalui kematiannya dan kebangkitannya.

Kelompok itu jugalah yang memutuskan buku mana saja yang harus dimasukkan ke dalam kanon tulisan kudus.

Pada akhir abad keempat, kebanyakan orang Kristen sepakat bahwa kanon itu berisi empat injil, Kisah, surat-surat Paulus, dan sekelompok surat lain seperti 1 Yohanes dan 1 Petrus, serta Wahyu kepada Yohanes.

Dan siapa yang telah menyalin naskah-naskah itu? Orang-orang Kristen dari jemaat-jemaat mereka sendiri, orang-orang Kristen yang paham benar tentang dan bahkan terlibat dalam debat-debat tentang identitas Allah, status tulisan-tulisan kudus Yahudi, pribadi Kristus, dan efek dari kematiannya.

Kelompok ini yang menyebut dirinya “ortodoks” (artinya memegang apa yang dianggap sebagai “kepercayaan yang benar”), kemudian menentukan apa saja yang harus dipercayai dan dibaca sebagai tulisan kudus oleh generasi-generasi Kristen masa datang.

Sebutan apa yang harus digunakan bagi pandangan-pandangan “ortodoks” sebelum pandangan-pandangan itu menjadi pendapat mayoritas semua orang Kristen? Mungkin sebutan yang terbaik adalah proto-ortodoks. Artinya, pandangan-pandangan itu mewakili pandangan-pandangan orang Kristen “ortodoks” sebelum kelompok itu memenangi debat pada sekitar awal abad keempat.

Apakah debat-debat itu memenuhi para penyalin sewaktu mereka mereproduksi tulisan kudus mereka? Dalam bab ini saya menyatakan bahwa debat-debat itu memang memengaruhi mereka.

Untuk menegaskan hal itu, saya hanya akan membahas satu aspek yang menjadi bahan perdebatan teologis berkepanjangan pada abad kedua dan ketiga, yakni pertanyaan tentang pribadi Kristus.

Apakah ia manusia? Apakah ia bersifat ilahi? Apakah kedua-duanya? Jika kedua-duanya, apa ia dua pribadi yang terpisah, satu ilahi dan satu manusia? Atau apakah ia satu pribadi yang sama-sama manusia sekaligus bersifat ilahi?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya terjawab dalam kredo-kredo yang dirancang dan kemudian diteruskan bahkan hingga hari ini, kredo-kredo yang menyatakan bahwa ada “Tuhan Yesus Kristus” yang sepenuhnya Allah sekaligus sepenuhnya manusia.

Sebelum keputusan-keputusan itu dibuat, ada banyak ketidaksepakatan, dan berbagai ketidaksepakatan itu memengaruhi naskah-naskah tulisan kudus kita 3)

Sebagai contoh, saya akan membahas tiga bidang perdebatan tentang pribadi Kristus, melihat bagaimana naskah-naskah daribuku-buku yang akhirnya menjadi Perjanjian Baru diubah-ubah oleh (tentunya) para penyalin yang sebenarnya berniat baik, yang dengan sengaja mengubah naskah yang mereka salin agar lebih cocok dengan pandangan teologis mereka sendiri, dan kurang cocok dengan pandangan teologis musuh mereka.

Bidang pertama yang ingin saya ulas berkaitan dengan pernyataan yang dibuat oleh beberapa orang Kristen bahwa Yesus sepenuhnya manusia sehingga ia tidak mungkin bersifat ilahi.

Pandangan ini dianut oleh sekelompok orang Kristen yang oleh para cendekiawan zaman sekarang disebut kaum adopsionis.

Argumen saya adalah bahwa para penyalin Kristen yang menentang pandangan adopsionis tentang Yesus memodifikasi naskah yang mereka salin untuk menekankan pandangan mereka bahwa Yesus bukan cuma manusia, melainkan juga bersifat ilahi.

Kita bisa menyebut modifikasi jenis ini sebagai pengubahan tulisan kudus antiadopsionistik.

PENGUBAHAN ANTIADOPSIONISTIK

Kaum Adopsionis Kristen Perdana

Bersambung…

————————————————-

Catatan Kaki:

1) Untuk naskah-naskah utama dari periode ini. lihat Bart D. Ehrman, After the New Testament: A Reader in Early Christianity (New York: Oxford Univ. Press, 1999). Suatu pengantar yang bagus tentang periode ini dapat ditemukan dalam Henry Chadwick, The Early Church (New York: Penguin, 1967)

2) Untuk pembahasan lebih lengkap tentang bahan yang diliput dalam paragraf-paragraf berikut, lihat terutama Ehrman, Lost Christianities, bab I.

3) Untuk pembahasan lengkap, lihat Ehrman, Orthodox Corruption of Scripture.

Tulisan terkait:

  1. Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis
  2. (Sambungan ke-1) Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis – Antiadopsionis
  3. (Sambungan ke-2) Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis – Antiadosetik
  4. (Sambungan ke-3) Bart D. Ehrman: Pengubahan yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis – Antiseparasionis
  1. Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  2. (Sambungan ke-1) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  3. (Sambungan ke-2) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  4. (Sambungan ke-3) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  5. (Sambungan ke-4) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  6. (Sambungan ke-5) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  7. (Sambungan ke-6) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”

Video terkait:

  1. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 1/10
  2. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 2/10
  3. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 3/10
  4. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 4/10
  5. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 5/10
  6. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 6/10
  7. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 7/10
  8. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 8/10
  9. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 9/10
  10. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 10/10

Leave a Comment