Ini masih postingan sambungan Kata Pengantar dari Bart D. Ehrman di bukunya “Misquoting Yesus”. Sekarang sambungan ke-4.
Hal itu adalah sudut pandang baru bagi saya, dan tampaknya bukanlah pandangan yang saya miliki semasih menjadi orang Kristen evangelis – juga bukan pandangan kebanyakan anggota evangelis dewasa ini.
Saya ingin memberi contoh tentang perbedaan yang bisa dihasilkan oleh perubahan sudut pandang saya dalam memahami Alkitab.
Sewaktu saya kuliah di Moody Bible Institute, salah satu buku terpopuler di kampus adalah The Late Greate Planet Earth, karya Hal Lindsay yang berisi rencana apokalips untuk masa depan kita.
Buku Lindsay itu terkenal bukan hanya di Moody; sesungguhnya, buku itu merupakan karya nonfiksi terlaris (selain Alkitab; dan sebenarnya kurang cocok jika disebut karya nonfiksi) dalam bahasa Inggris pada tahun 1970-an. Lindsay, sebagaimana para penghuni Moody, percaya bahwa kata-kata Alkitab mutlak tidak bisa salah, sehingga orang bisa membaca Perjanjian Baru lalu mengetahui bukan hanya bagaimana Allah ingin kita hidup dan apa yang Ia ingin kita percayai, melainkan juga apa yang Allah sendiri rencanakan di masa depan dan bagaimana Ia akan melakukannya.
Dunia ini sedang mengarah ke suatu krisis apokalips berupa bencana besar, dan kata-kata Alkitab yang tidak bisa salah dapat dibaca guna mengetahui apa, bagaimana, dan kapan semua itu akan terjadi.
Saya khususnya tertarik dengan kata “kapan”.
Lindsay menyebutkan perumpamaan Yesus tentang pohon ara sebagai petunjuk mengenai kapan Armagedon akan datang.
Muris-murid Yesus ingin mengetahui kapan “akhir” itu datang, dan Yesus menjawab:
“Tariklah pelajaran dan perumpamaan tentang pohon ara ini. Setelah ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian pula kamu, apabila kamu melihat semuanya ini, ketahuilah bahwa ia [Putra Manusia] sudah dekat, sudah diambang pintu. Dengan sungguh-sungguh aku mengatakan kepadamu bahwa generasi ini tidak akan berlalu sampai semuanya itu terjadi. (Mat. 24:32-34)
Apa arti perumpamaan ini? Lindsay, yang mengira bahwa hal itu adalah firman yang tidak bisa salah dari Allah itu sendiri, menyingkapkan pesan itu dengan menunjukkan bahwa didalam Alkitab “pohon ara” seringkali digunakan untuk menggambarkan bangsa Israel.
Apa artinya pohon itu mengeluarkan daun-daun? Hal itu berarti bangsa tersebut, setelah tidak aktif selama suatu musim (musim dngin), akan kembali aktif.
Dan kapan Israel kembali aktif? Pada tahun 1948, sewaktu Israel sekali lagi menjadi bangsa yang berdaulat.
Yesus menunjukkan bahwa akhir itu akan datang dalamgenerasi yang di dalamnya Israel menjadi bangsa berdaulat.
Dan berapa lamakah satu generasi di dalam Alkitab? Empat puluh tahun.
Maka, ajaran yang diilhami oleh Allah itu, yang diucapkan langsung oleh Yesus, mengatakan bahwa akhir dunia ini akan datang sebelum tahun 1988, empat puluh tahun setelah kebangkitan kembali Israel.
Pesan itu terasa begitu meyakinkan bagi kami. Mungkin hal itu terdengar aneh sekarang – mengingat fakta bahwa tahun 1988 telah lewat dan Armagedon tidak datang juga- tetapi, di pihak lain, ada jutaan orang Kristen yang masih percaya bahwa Alkitab bisa dibaca secara harfiah dan berisi prediksi yang diilhami sepenuhnya tentang apa yang akan segera terjadi untuk membawa dunia kita ini ke kesudahannya.
Lihat saja betapa gandrungnya orang baru-baru ini terhadap seri Left Behind karya Timothy LeHaye dan Jerry Jenkins, yang juga suatu visi apokalips masa depan yang didasarkan atas pembacaan Alkitab secara harfiah, suatu seri yang telah terjual lebih dari enampuluh eksemplar di zaman kita ini.
Tulisan terkait:
- Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-1) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-2) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-3) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-4) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-5) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-6) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
Video terkait:
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 1/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 2/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 3/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 4/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 5/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 6/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 7/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 8/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 9/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 10/10


