Ini masih postingan sambungan Kata Pengantar dari Bart D. Ehrman di bukunya “Misquoting Yesus”. Sekarang sambungan ke-3.
Singkatnya, penelitian saya terhadap Perjanjian Baru bahasa Yunani, dan penyelidikan saya terhadap manuskrip-manuskripnya, menghasilkan perubahan radikal terhadap pemahaman saya akan Alkitab.
Hal itu merupakan perubahan yang sangat berpengaruh bagi saya.
Sebelumnya -dimulai dari pengalaman lahir-kembali di SMA, melalui hari-hari saya di Moody sebagai evangelis- iman saya didasarkan sepenuhnya pada pandanganbahwa Alkitab sepenuhnya diilhami, firman yang tak bisa salah dari Allah.
Sekarang, saya tidak lagi memandang Alkitab dengan cara seperti itu. Bagi saya, Alkitab mulai tampak sebagai buku yang sangat manusiawi.
Sebagaimana para penualin manusia telah menyalin, dan mengubah, naskah Alkitab, demikian pula para penulis manusialah yang pada awalnya menulis naskah Alkitab.
Alkitab adalah buku yang manusiawi dari awal hingga akhir. Alkitab ditulis oleh beragam penulis manusia pada waktu yang beragam dan di tempat yang beragam guna membahas beragam keperluan.
Banyak dari penulis itu tak diragukan lagi percaya bahwa mereka diilhami oleh Allah untuk menulis Alkitab, tetapi mereka memiliki sudut pandang sendiri, kepercayaan sendiri, kepercayaan sendiri, kebutuhan sendiri, dan hasrat sendiri, teologi sendiri; dan sudut pandang, kepercayaan, pandangan, kebutuhan, hasrat, danteologi itu memberi informasi tentang segala sesuatu yang mereka tulis.
Dalam semua itu, mereka berbeda satu dengan yang lainnya.
Diantaranya, hal itu berarti bahwa Markus tidak mengatakan hal yang sama seperti Lukas. Yohanes berbeda dengan Matius – tidak sama. Surat Paulus berbeda dengan buku Kisah. Dan Yakobus berbeda dengan Paulus.
Tiap penulis Alkitab adalah penulis manusia dan karyanya harus dibaca sebagaimana sang penulis menulisnya, tiak menganggap bahwa apa yang dikatakan sang penulis sama, sesuai, atau konsisten denganapa yang para penulis lainnya katakan.
Alkitab, pada akhirnya, adalah buku yang sangat manusiawi.
Tulisan terkait:
- Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-1) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-2) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-3) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-4) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-5) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
- (Sambungan ke-6) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
Video terkait:
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 1/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 2/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 3/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 4/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 5/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 6/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 7/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 8/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 9/10
- Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 10/10


