(Sambungan ke-1) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus” ?

Ini postingan sambungan Kata Pengantar dari Bart D. Ehrman di bukunya “Misquoting Yesus”

Sekali lagi, saya diperingatkan oleh rekan-rekan evangelis saya untuk tidak pergi ke Princeton Seminary, karena, kata mereka, saya akan mengalami kesulitan untuk menemukan orang Kristen “sejati” di sana.

Lagi pula, seminari itu milik gereja Presbyterian, bukan tempat yang pas bagi orang Kristen yang dilahirkan kembali untuk bertumbuh.

Tetapi, kuliah saya di bidang sastra Inggris, filsafat, dan sejarah – belumlagi bahasa Yunani- sangat memperluas wawasan saya, dan sekarang saya merasa haus akan pengetahuan, segala macam pengetahuan, rohani dan sekuler.

Jika, karena mempelajari “kebenaran”, saya tidak cocok lagi untuk disebut sebagai orang Kristen yang dilahirkan kembali, biar saja.

Pokoknya, saya ingin mengejar kebenaran ke mana pun saya harus pergi, karena saya yakin bahwa dari semua kebenaran yang saya pelajari, tak ada satu pun yang kurang benar sehingga bisa dianggap mengejutkan atau sulit diterima oleh standar-standar kaku yang disediakan oleh latar belakang evangelis saya.

Setibanya di Princeton Theological Seminary, saya segera mendaftar untuk mengikuti kuliah eksegesis (penafsiran) bahasa Ibrani dan Yunani tahun pertama, dan membuat jadwal sepadat-padatnya untuk menghadiri kuliah tersebut.

Saya mendapati bahwa mata kuliah itu cukup menantang secara akademis maupun secara pribadi.

Tantangan akademisnya sama sekali tidak menjadi masalah, tetapi tantangan-tantangan pribadi yang saya hadapi terasa agak meletihkan secara emosi.

Sebagaimana telah saya ceritakan, di Wheaton saya sudah bertanya-tanya tentang beberapa aspek mendasar komitmen saya terhadap Alkitab sebagai firman yang tidak bisa salah dari Allah.

Komitmen itu diserang secara gencar ketika saya mendalami kuliah-kuliah saya di Princeton.

Saya menolak godaan apa pun untuk mengubah pandangan-pandangan saya, dan menemukan beberapa teman yang, seperti saya, berasal dari sekolah evangelis konservatif dan sedang berupaya “menjaga iman” (istilah yang lucu – kalau saya mengenang hal itu – mengingat kami sedang mengikuti kuliah teologi Kristen).

Tetapi, kuliah-kuliah itu mulai merusak saya.

Suatu titik balik saya alami pada semester kedua, dalam sebuah mata kuliah yang dosennya adalah seorang profesor yang sangat dihormati dan saleh bernama Cullen Story.

Mata kuliah itu membahas eksegesis Injil Markus, yang pada waktu itu (dan sampai sekarang) adalah Injil faforit saya.

Untuk mata kuliah itu, kami harus membaca Injil Markus seluruhnya dalam bahasa Yunani (saya menghapalkan seluruh kosa kata bahasa Yunani dalam itu satu pekan sebelum semester tersebut dimulai); kami harus menuliskan dalam buku catatan eksegesis kami renungan-renungan kami tentang penafsiran ayat-ayat kunci; kami membahas masalah-masalah penafsiran naskah; dan kami harus menulis sebuah makalah akhir semester tentang masalah penafsiran pilihan kami.

Saya memilih suatu bagian di Markus 2 yang menceritakan bahwa Yesus sedang digugat oleh orang-orang Farisi karena murid-muridnya melintasi ladang gandum, memakan bulir gandum pada hari Sabat.

Yesus ingin memperlihatkan kepada orang-orang farisi itubahwa “hari Sabat diadakan demi manusia, dan bukan manusia demi hari Sabat” dan dengan demikian menggingatkan mereka tentang apa yang dilakukan Raja Daud yang agung sewaktu ia dan orang-orangnya sedang kelaparan, bagaimana mereka masuk kedalam Rumah Allah “sewaktu Abyatar menjabat sebagai imam besar” dan memakan roti persembahan, yang tidak boleh dimakan kecuali oleh para imam.

Salah satu masalah terkenal tentang cerita itu adalah bahwa sewaktu kita melihat bagian Perjanjian Lama yang Yesus kutip (1 Sam. 21:1-6), ternyata Daud tidak melakukan hal itu sewaktu Abyatar menjabat sebagai imam besar, tetapi, sesungguhnya, sewaktu ayah Abyatar, Ahimelekh, menjabat sebagai imam besar.

Dengan kata lain, hal itu adalah salah satu bagian yang diajukan guna membuktikan bahwa Alkitab sama sekali tidak bebas salah, tetapi berisi kesalahan-kesalahan.

Dalam makalah saya untuk Professor Story, saya mengembangkan sebuah argumen yang panjang dan rumit bahwa meskipun buku Markus menunjukkan bahwa hal itu terjadi “sewaktu Abyatar menjabat sebagai imam besar”, buku itu tidak benar-benar memaksudkan bahwa Abyatar menjabat sebagai imam besar, tetapi bahwa peristiwa itu terjadi dalam bagian naskah Alkitab di mana Abyatar adalah salah satu tokoh utamanya.

Argumen saya didasarkan atas makna kata-kata Yunani yang terkait dan argumen itu agak sulit dipahami.

Saya sangat yakin bahwa Profesor Story akan menghargai argumen itu, karena saya tahu bahwa dia adalah seorang cendekiawan Kristen yang baik yang tampaknya (seperti saya) berpendapat bahwa tidak mungkin ada kesalahan dalam naskah asli Alkitab.

Tetapi, di akhir makalah saya, ia menuliskan sebuah catatan singkat yang karena alasan tertentu cukup mengena bagi saya. Ia menulis, “Mungkin Markus memang membuat kesalahan.”

Saya mulai memikirkan hal itu, mengingat semua pekerjaan yang harus saya lakukan untuk menghasilkan makalah tersebut, karena menyadari bahwa saya harus merancang siasat eksegesis yang mengesankan guna mengatasi masalah itu, dan bahwa solusi saya ternyata agak luar biasa.

Saya akhirnya menyimpulkan, “Hmm … mungkin Markus memang melakukan kesalahan.”

Begitu saya membuat pengakuan itu, terbukalah pikiran saya. Karena jika di dalam Markus 2 terdapat satu kesalahan kecil dan remeh, bisa jadi ada kesalahan di bagian-bagian lainnya juga.

Mungkin, sewaktu Yesus kemudian mengatakan di Markus 4 bahwa biji sesawi adalah “biji yang terkecil di dunia”, mungkin saya tidak perlu menyusun penjelasan yang mengesankan tentang bagaimana biji sesawi bisa dikatakan sebagai biji terkecil sedangkan saya tahu betul bahwa tidaklah demikian halnya.

Dan mungkin “kesalahan-kesalahan” itu juga terdapat dalam kasus-kasus yang lebih besar.

Mungkin ketika Markus mengatakan bahwa Yesus disalib pada hari setelah perjamuan Paskah (Mrk 14:12; 15:25) dan Yohanes mengatakan bahwa ia wafat pada hari sebelum perjamuan Paskah (Yoh. 19:14) – mungkin perbedaan itu memang asli.

Atau ketika Lukas menunjukkan dalam kisahnya tentang kelahiran Yesus bahwa Yusuf dan Maria pulang ke Nazaret sebulan lebih sedikit setelah mereka tiba di Betlehem (dan mengadakan upacara pemurnian/pentahiran; Luk. 2:39), sedangkan Matius menunjukkan bahwa mereka melarikan diri ke Mesir (Mat. 2:19-22) – mungkin memang ada perbedaan.

Atau ketika Paulus mengatakan bahwa setelah ia bertobat di jalan menuju Damaskus ia tidak pergi ke Yerusalem untuk menemui rasul-rasul sebelum dia (Gal. 1:16-17), sedangkan buku Kisah mengatakan bahwa hal itulah yang pertama kali ia lakukan setelah meninggalkan Damaskus (Kisah 9:26) – mungkin memang ada perbedaan.

Tulisan terkait:

  1. Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  2. (Sambungan ke-1) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  3. (Sambungan ke-2) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  4. (Sambungan ke-3) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  5. (Sambungan ke-4) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  6. (Sambungan ke-5) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”
  7. (Sambungan ke-6) Siapakah Bart D. Ehrman yang menulis buku “Misquoting Yesus”

Video terkait:

  1. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 1/10
  2. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 2/10
  3. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 3/10
  4. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 4/10
  5. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 5/10
  6. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 6/10
  7. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 7/10
  8. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 8/10
  9. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 9/10
  10. Video Kuliah Bart D. Ehrman, pengarang “Misquoting Jesus”, di Stanford University, How Bible Tainted 10/10

One Comment

  1. 1
    CosmicBoy Says:

    Bart D. Erhman amat bertuah dilahirkan di USA dan beragama Kristen.

    Iya gw udah baca ada di bukunya

    Kalo dia memperlakukan Al-Quran seperti dia memperlakukan Al-Kitab, lho, bisa mati dia dibunuh orang Islam.

    Sorry berat Boy, topik bahasan diskusi blog ini bukan yg begituan. Gue no comment deh OOT banget.. Please ngertiin dulu dong blog ini blog apaan.. Tx

    Karna itu dia selepas membuat penelitian yang cukup mendalam tentang Al-Kitab, maka imannya semakin hilang dan pudar lalu menjadi agnostik (orang yang ragu2 dan akan kembali percaya sekiranya ada bukti2 yang kukuh) .

    Iya bener dia jadi agnostik

    Mengapa dia tidak kaji Al-Quran kalo Al-Kitab dianggapnya bukan Firman Allah lagi.

    Wah gue gak tau tuh knapa dia gak kaji Al-Qur’an, emang elo sempet nanya?

    Dia udah tahu, cara dan metode penelitiannya sama seperti Al-Kitab, dan akhirnya keputusan penelitian terhadap Al-Quran adalah sama kalo tidak lebih parah!

    Wah itu kan tebakan elo. G & Blog ini gak lagi diskusiin apakah Al-Quran itu lebih parah dari Al Kitab atau enggak.. Please deh.. masak gak ngerti2 maksud blog ini sih?

    So, jangan lebihkan kuah dari nasi; menagih di air keruh dengan berfikir bahawa Islam bisa jadi benar kerana Kristen salah.

    Wah jadi kemana-mana OOT nya.. skali lagi ya, Gw & blog ini tidak lagi ngaduin Islam & Kristen. Gw & blog ini cuma ngediskusiin ketuhanan Yesus pake logika titik..

    GBU


RSS Feed for this entry

Leave a Comment