Kita sudah mengetahui bahwa menurut taksiran para Ahli: Injil Markus, Matius, Lukas dan Yohannes disusun setelah Yesus wafat. Injil Markus yang dianggap paling tua, berjarak hampir 40 tahun dengan saat Yesus wafat.
Menurut buku “Misquoting Yesus – Kesalahan Penyalinan Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru” karangan Bart D. Ehrman seorang ahli kritik naskah, pada Kata Pengantar, dia menyatakan:
Halaman xx
Kita tidak memiliki naskah-naskah asli itu! Kita hanya memiliki salinan-salinan yang sarat kekeliruan, dan sebagian besar dari salinan-salinan itu sudah terpisah selama berabad-abad dari naskah-naskah aslinya dan berbeda dengan naskah-naskah asli itu, dan tampaknya perbedaannya banyak sekaliHalaman xxv
Jika ada pendapat yang bersikukuh mengatakan bahwa Allah mengilhami kata-kata Alkitab, apa gunanya jika kita tidak memiliki kata-kata Alkitab itu?
Naskah-naskah yang dimiliki sekarang bukanlah naskah aslinya, melainkan salinannya. Karena pada masa itu belum ada percetakan, maka satu-satunya cara untuk memperbanyak naskah asli tersebut adalah dengan cara menyalinnya. Menyalin disini berarti menulis ulang.
Penyalinan-penyalinan pada tahap berikutnya dilakukan dengan cara menyalin dari salinan yang dimiliki. Misalkan suatu daerah ingin memilikinya, maka bukan naskah aslinya dibawa kesana untuk disalin disana, tapi salah satu salinannya dibawa kesana untuk disalin disana.
Proses menyalin naskah yang dilakukan dengan cara menulis ulang naskah tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun.. Proses penyalinan ini tentu saja bisa menyebabkan distorsi pada salinan naskah yang dibuat..
Jaminan kesesuaian mendekati 100% antara salinan yang dibuat dengan naskah yang disalin hanya bisa dicapai jika digunakan mesin cetak yang baru ditemukan sekitar abad 18.
Masih dari buku yang sama, di halaman 47:
Sebaliknya, sebagian besar pengubahan sekadar diakibatkan oleh keteledoran murni – tercoret, terhapus, tertambahkan, salah eja, dan segala macam keteledoran lainnya.
Jadi, kita bisa memaklumi kalau proses menyalin dengan cara menulis ulang satu persatu dapat menimbulkan minimal distorsi sepele seperti dikutip diatas.. Distorsi tersebut menurut buku yang sama, terjadi pada masa-masa awal naskah-naskah Kristen.
Buku yang sama pada halaman 43 menuliskan:
[...] Origen, sang Bapa Gereja dari abad ketiga, misalnya, pernah mengajukan keluhan berikut ini tentang salinan-salinan Injil-injil yang ia miliki:
Perbedaan di antara manuskrip-manuskrip itu sangat banyak, yang diakibatkan oleh kelalaian beberapa penyalinnya atau oleh kelancangan yang menyimpang dari para penyalin lainnya; mereka tidak memeriksa apa yang telah mereka salin, atau, dalam proses memeriksa, membuat penambahan atau pengurangan sesuka hatinya.
Bukan cuma Origen yang melihat masalah ini. Penentangnya yang kafir, Celsus, juga telah mengetahuinya sekitar tujuh puluh tahun sebelumnya. Dalam serangannya terhadap agama Kristen dan kesusasteraannya, Celsus menjelek-jelekkan para penyalin Kristen atas praktik penyalinan mereka yang sarat pelanggaran:
Beberapa penganut, seolah-olah habis minum-minum, menentang diri mereka sendiri dan mengubah naskah Injil sampai tiga atau empat atau beberapa kali; dan mereka mengubah karakter naskah itu guna menghindarkan mereka dari kesulitan dalam menghadapi kritik. (Melawan Celsus 2.27)
Berikutnya, ini contoh distorsi yang memang dibuat dengan sengaja karena faktor-faktor tertentu dari buku yang sama halaman 48-50
Suatu contoh menarik tentang pengubahan naskah secara sengaja ditemukan dalam salah satu manuskrip tua terbaik yang kita miliki, Kodeks Vatikanus (dinamai demikian karena ditemukan di perpustakaan Vatikan), yang dibuat pada abad keempat. Dalam pembukaan buku Ibrani, ada suatu bagian yang, menurut sebagian besar manuskrip, mengatakan, “Kristus mendukung [bahasa Yunani: PHERON] segala perkara dengan firmannya yang penuh kuasa.” (Ibr. 1:3) Namun, dalam Kodeks Vatikanus, penyalin yang awal menghasilkan naskah yang sedikit berbeda, berisi kata kerja yang terdengar serupa dalam bahasa Yunani; disitu naskahnya berbunyi, “Kristus menerangkan [bahasa Yunani: PHANERON] segala perkara dengan firmannya yang penuh kuasa.” Beberapa abad kemudian, seorang penyalin kedua membaca bagian ini di manuskrip itu dan memutuskan untuk mengubah kata yang tidak lazim menerangkan menjadi kata yang lebih lazim mendukung – menghapus kata yang satu dan menulis kata yang lain. Lagi, beberapa abad kemudian, seorang penyalin ketiga membaca manuskrip itu dan melihat adanya perubahan yang telah dibuat penyalin sebelumnya itu; ia, selanjutnya, menghapus kata mendukung dan menuliskan ulang kata menerangkan. Ia kemudian menambahkan suatu catatan penyalin dipinggir untuk menunjukkan pemikirannya terhadap penyalin sebelumnya, penyalin yang kedua. Catatan itu mengatakan, “Dasar bodoh dan pembohong, biarkan naskah ini seperti aslinya, jagan diubah-ubah!”
Saya memiliki sebuah salinan dari halaman tersebut yang dibingkai dan digantung di dinding di atas meja saya supaya saya selalu ingat tentang para penyalin bandel itu, yang gemar mengubah bolak-balik naskah yang mereka salin.
Tetapi bukankah yang berubah cuma satu kata? Mengapa harus ambil pusing? Harus, karena satu-satunya cara untuk memahami apa maksud sang penulis, kita harus mengetahui apa sebenarnya kata-kata — semua kata– yang ia tulis. (Coba pikirkan tentang khotbah-khotbah di gereja yang membahas tentang sebuah katadalam suatu ayat: bagaimana jika kata itu ternyata tidak pernah ditulisoleh penulisnya?)
Mengatakan bahwa Kristus menyingkapkan segala perkara dengan firmannya yang penuh kuasa tentu saja sangat berbeda dengan mengatakan bahwa ia menjaga seluruh alam semesta ini dengan firmannya!
Jika digambarkan daftar silsilah penyalinan naskah mungkin akan terlihat seperti ini:
Misalkan, kita punya salinan naskah X, naskah Y yang dibuat pada tahun 1700 serta salinan naskah yang sama tapi didapat pada tahun 1600. Pada ketiga salinan tersebut misal terdapat beberapa perbedaan pada ayat yang sama.
Pertanyaan selanjutnya adalah: ayat pada salinan naskah yang mana yang bisa diyakini lebih asli.. Nah disinilah para Ahli Kritik Naskah berperan..
Kita tidak bisa langsung memutuskan bahwa yang asli adalah dari naskah salinan Z karena berasal dari tahun yang lebih tua yakni tahun 1600 . Kenapa? karena bisa saja Naskah salinan X yang lebih muda ditemukan pada kota/daerah yang terbukti memiliki kebiasaan penyalinan yang lebih dapat diandalkan.
Untuk memahami lebih jauh lagi masalah ini, Anda harus membaca sendiri buku tersebut.
Kerja keras para Ahli Kritik Naskah ini harus dihargai, namun masalahnya adalah: tidak satupun naskah asli yang sesungguhnya kita dimiliki sekarang, yang ada adalah salinannya yang berumur paling tua sekitar 200an tahun dari naskah asli itu pertamakali dibuat.
Jadi pekerjaan Ahli Kritik Naskah itu adalah menggunakan metode dan pendekatan tertentu untuk mencari kata/ayat yang paling mendekati asli dari perbedaan ayat atau kata yang ada di sejumlah manuskrip/naskah. Hanya sejauh itu.
Ahli Kritik Naskah tidak bisa membandingkan ayat/kata tersebut dengan naskah aslinya, yaitu naskah bersangkutan yang pertamakali dibuat. Karena kita tidak memilikinya.
Kalau naskah aslinya dimiliki, maka semua naskah/manuskrip salinannya yang ditemukan pada tahun-tahun kemudian langsung bisa diabaikan, malah kemungkinan besar ahli kritik naskah tidak diperlukan lagi..
Dengan postingan ini, saya tidak bermaksud untuk menyimpulkan bahwa semua ayat tentang trinitas, misalnya, tidak dapat dipercaya.
Saya juga tidak menyimpulkan bahwa semua isi Alkitab itu 100% tidak dapat dipercaya, tapi sulit untuk mempercayainya 100%.
Kita bisa menyimpulkan bahwa Alkitab ditulis oleh seorang manusia yang bukan saksi mata kehidupan Yesus. Kemudian disalin, disalin dan terus disalin dengan tingkat kemungkinan kesalahan penyalinan yang lumayan.. Sampai akhirnya disepakati pada titik tertentu.
Bagaimana pendapat Anda?




Sebagai orang yang berlatar belakang komunikasi, saya paham betul yang namanya kemungkinan kesalahan dalam penyalinan, belum termasuk kesalahan penterjemahan, karena satu kata dalam beberapa kalimat berbeda bisa bermakna berbeda, jadi harus disesuaikan dengan konteksnya… Apalagi jika sudah melalui banyak tangan dalam jangka waktu ribuan tahun, validity dan reabilitynya jelas meragukan ( dalam konteks pengetahuan bukan keimanan).
Saya orang kristen lahir baru, saya memiliki ketertarikan dengan naskah-naskah kuno. Jadi menurut saya yang paling penting adalah keimanan kita. Alkitab juga penting, tapi hal ini bisa jadi polemik tanpa henti.
Mungkin ada baiknya jika ada revisi, tanpa berpikiran buruk ttg alkitab itu sendiri. Malu kan sama saudara kita berbeda iman, kalau hari gini kita masih meributkan isi alkitab.
Dalam setiap kesalahan selalu mengandung kebenaran. Untuk mencari kebenaran terkadang harus mengorbankan perasaan dan emosi kita.
Banyak orang yang mencari TUHAN tidak didasari atas mencari kebenarannya melainkan mencari TUHAN hanya sebagai jalan keluar atas problem yang dihadapi.
Ada tertulis :
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan.”
Ayat ini mengilhami saya bahwa orang yang mencari kebenaran tidak akan begitu saja diabaikan oleh TUHAN semesta alam, dan mereka adalah orang-orang yang digolongkan berbahagia.
“Carilah dahulu Kerajaan Allah serta KEBENARANNYA…”
Kita tidak disuruh semata-mata mencari Kerajaan Allah tapi juga KebenaranNya.
“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap AKAL BUDIMU, inilah hukum yang TERUTAMA dan yang pertama.
Ayat ini mengungkapkan bahwa Tuhan tidak mengehendaki kita beriman secara buta kepadaNya, tapi juga dengan memakai AKAL BUDI kita atau dengan kata lain NALAR.
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa kebenaran itu harus dicari, dan diupayakan sepanjang hidup kita.
waduh si bro ini mempermasalahkan Alkitab juga.
aku setuju kalau Alkitab bhs Indonesia ada beberapa kekeliruan. Bahkan klo ga salah ada kitab bhs Indonesia yang beda satu ayat dengan kitab bhs inggris. nah lo ilang kemana tu ayat? dalam beberapa kasus kita bisa merujuk ke bahasa aslinya.
Tapi kalau dipikir-pikir semua kitab kan juga ditulis oleh manusia.
Ga ada yang langsung nongol dari atas.
Di salin juga oleh manusia. Berarti tingkat errornya lebih besar donk.
Coba kalau jaman dahulu ada komputer kan ga repot ya.
Kalau ga ada kitab yang bener berarti ga ada kebenaran yang manusia bisa yakini donk?
ga ada kebenaran maka manusia ga tau mana yang baik dan yang jahat donk? ga tau mana yang baik dan jahat berarti… kayanya dunia akan runyam.. bro
adakah dalam al-kitab anda kata kristen/katolik?
satu-satunya kitab suci yang menyertakan nama agama-nya adalah
ISLAM
Menarik sekali perbincangan mengenai manuscript Alkitab.
Saya jadi lebih yakin bahwa tradisi kritik teks (tekstologi) dan tradisi kritik naskah (kodikologi) yang terangkum dalam disiplin ilmu filologi berawal dari tradisi Kajian Alkitab.
Sudah sepantasnya bangsa Indonesia yang memiliki khazanah manuscript yang beragam bahan, bahasa, aksara, dan kandungan isinya itu belajar dari pengalaman berharga di dunia Barat dalam hal studi naskah kuno.
Terima kasih
Shalom Aleikhem
Haskalah mengadakan (Pelajaran) Kursus Bahasa Ibrani Modern (Basic/Dasar). (Terbuka untuk umum)
Belajar bahasa Ibrani Modern dari dasar (Basic), yakni
mengenal huruf Ibrani, membaca, menulis (mentransliterasi dari
huruf/aksara Ibrani ke huruf Latin) dan mengenal huruf Ibrani dengan
baik.
Bagi saudara – saudari yang berminat dapat menghubungi di no Telp: 021 – 71442718
Aleikhem Shalom
NB: Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang tertarik bahasa Ibrani (Hebrew)
Gambar kesesatan Kristen makin nampak jelas.
Telah banyak puzzle terkumpul dan terus memperlihatkan kesesatan kristen.
coba baca artikel ini:
http://hotarticle.org/paus-matahari/
Shalom
ini website, untuk berkomunikasi:
http://bahasaibrani.wordpress.com/2008/02/12/kursus-privat-bahasa-ibrani-modern-modern-hebrew/
shalom, ha..ha..ha.. dasar manusia selalu menganggap diri dan kelompoknya yang benar! sebenarnya kalau boleh kasih saran, janganlah kita selalu menganggap kita paling benhar dan yang lain selalu salah. soal iman tak perlu diperdebatkan dan dibanding-bandingkan. seseorang memilih agamanya karena keimanannya. agamaku agamaku agamamu agamamu. dengan begitu tak akan timbul konflik.
Keakuratan Alkitab? tak mungkin 100% benar karena sudah jelas seperti diuraikan diatas bahwa disalin dr daun, kulit, batu dan lain-lain dan disalin ulang sampai beribu tahun, wajar kalau ada kekeliruan.
Al Quran? siap bilang bisa akurat 100%. buku ini juga disalin dari wadah-wadah yang sama dan disalin ulang oleh beberapa sahabat Muhamad dan seletalh beliau meninggal dikumpulkan lagi dan di edit atas perintah kalifah Umar dan yang dianggapnya kurang pas, dibakar. apa anda yakin yang di edit itu benar tanpa kesalahan?
Yang tahu keakuratan Alkitab dan Al Quran hanyalah Allah. oleh sebab itu kita diberi akal dan pikiran. pergunakanlah itu untuk mengetahui mana yang benar dan yang salah. sebelum membaca, mintalah petunjuk guna pencerahan. ok. yang pasti firman Allah sudah pasti benar. terima kasih. salam. Gbu
salam kenal !
Senang sekali membaca kata-demi-kata di website ini, menambah wawasan,mengujinya, dan juga menguji mental saya…
Saya sangat menghargai bilamana setiap individu menjadi dewasa dalam berargumen tanpa harus menyakiti salah satu pihak, sebagai seorang kristen katolik saya menghargai setiap perbedaan, karena Memang kita diciptakan Berbeda…
Dan pencarian tentang Allah itu memang seperti luasnya samudra akan sangat melelahkan, Tetapi sesungguhnya Allah itu dekat kepada setiap orang yang didalam hatinya ada Kedamaian,Kasih,Kesabaran dan Kesetiaan.
Tentang siapakah Yesus itu sebagaimana ditulis juga dalam injil “Menurut kamu siapakah aku ini? (kata Yesus) .
Biarlah hatimu mencarinya sendiri, apa yang mustahil bagi manusia tidak demikian dengan Allah…
Ilmu itu perlu dan iman sangat Penting tetapi Kasih berada diatas segalanya..karena dalam Kasih kita tak mungkin sanggup menyakiti siapapun…
thanks for All
AKU MEMAKAI PENDEATAN LOGIKA RENDAH DIBANDING BAPAK Bart D Erhman YANG AHLI KRITIK. LOGIKA KU BEGINI :
Yesus Kristus (Isa) lahir dari Roh lewat Kandungan Mariam sama2 diakui Alkitab dan Alquran (maaf lupa tertulis di Alquran) tapi kami baca langsung. artinya kedua Kitab mengakui hal diatas, kami tidak mempersoalkan tata bahasa penulisan kalimatnya. tapi pengertian lahir dari Roh tertulis di kedua Kitab tersebut. Alquran ditulis dengan tulisan Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Sedangkan Alkita juga tertulis dalam bahasa Yunani (Heber = Hebrew) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi kita semua mengerti dan memahami dari tulis yang terdapat dalam Alkitab dan Alquran bahwa Yesus Lahir dari Roh, bukan dari hasil persetubuhan laki2 dengan wanita.
Hal yang paling terbesar dari Alkitab adalah tersusun secara sistematis, Bab ke Bab, Pasal ke Pasal saling terkait mulai dari Kejadian sampai akhir zaman. Anda boleh Baca Injil yang ditulis Matius, Lukas dan Johannes, secara kalimat dapat berbeda mulai dari Yesus lahir sampai naik ke Sorga, tidak sama persis bab ke bab dan pasal demi pasal dari injil yang tertulis dalam ketiga Murid Yesus tersebut. Namun secara akal sehat, nalar dan pengertian, kisahnya sama persis, artinya mengisahkan Yesus sejak Lahir, besar, berkotbah, berbuat keajaiban, mati, bangkit, dan naik ke sorga, maknanya mengandung pengertian yang sama.
Mungkin boleh saja kita bertanya, mungkinkah benar Yesus lahir dari Roh?, atau betulkah Dia dilahirkan oleh Maria?
Dalam komunitas batak ada kisah2 yang tak tertulis tapi kisah itu terkomunikasikan secara berantai dari generasi ke generasi, dari kakeknya kakek kepada bapaknya kakek, dari bapaknya kakek ke kakek, dari kakek ke bapak kita, dari kita ke anak kita dan seterusnya. Info seperti ini boleh2 saja cara menyampaikannya dalam kalimat berbeda, tetapi makna atau pengertian yang terkandung sama.
Secara pribadi Aku jadi takut amat kepada yang Aku Imani yakni Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus bila membaca komentar2 di blog saat ini menyangkut Allah sendiri, seperti judul2 Perbandingan Agama yang satu dengan Agama yang lain. Anehnya yang paling menonjol perdebatan adalah hanya Antara Agama Kristen dengan Islam, sedangkan dengan Agama lain hampir tidak ada. Boleh jadi umat/pengikut Atheis tertawa terbahak-bahak, mungkan saja ini kerjaannya Iblis, karena Iblis selalu melakukan kongres untuk mengatur strategi mengadudomba umat2 yang berAgama atau yang percaya kepada Allah, sasaran empuk adalah Kristen Vs Islam.
Hal lain yang perlu direnungkan sejenak oleh para pemikir adalah Karena Alkitab tersusun secara sistematis dimana Bab ke Bab dan pasal demi pasal saling berhubungan, maka pasal demi pasal tidak dapat diKritik secara parsial, atau sendiri2, pasti pengertiannya masuk jurang.
Alkitab tersusun secara Sistematis sedang Aku bandingkan juga dengan Alquran, dengan pertanyaan sbb :
1. apakah Adam dan Eva manusia pertama di kedua kitab tersebut?,
2. Apakah Musa, Ibrahim dan Nabi2 lainnya, Yesus Kristus, Mariam yang tertulis dalam Alkitab sama dengan yang tertulis dalam Alquran?
3. Apakah Yesus lebih dahulu lahir dari Muhammad dalam kedua kitab tersbut.
4. Bahkan Apakah Allah yang disebut dalam kedua Kitab tersebut sama atau berbeda?
Jawabannya adalah Ya atau Tidak.
Untuk sementara dalam benak Aku, Nama2 yang tertulis dalam Alkitab tidak sama dengan Nama2 yang tertulis dalam Alquran.
Trims.